Pelaku Usaha Siap Diaudit Energi

Pelaku Usaha Siap Diaudit Energi

- detikFinance
Sabtu, 30 Jul 2005 02:04 WIB
Jakarta - Pelaku usaha menyambut positif permintaan pemerintah untuk melakukan audit energi, agar dapat mengetahui letak ketidakefisienan penggunaan energinya pada produksi dalam rangka hemat energi.Demikian disampaikan Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja kepada wartawan di Jakarta, Jumat (29/7/2005)."Kami sudah bertemu dengan sejumlah asosiasi yang mengkonsumsi banyak energi dan PT Konservasi Energi Abadi (Koneba). Pelaku usaha katakan bersedia segera lakukan audit, karena mereka yang diuntungkan. Dengan penghematan terjadi penurunan pengeluaran energi," ujarnya.Andung menjelaskan nantinya yang membiayai audit bukan pemerintah, tapi pelaku usaha bekerja sama dengan Koneba. Koneba dapat memberikan premi, bagaimana pelaku usaha bisa melakukan penghematan energi.Mengenai biaya audit yang cukup tinggi, dijelaskan Andung hal itu adalah investasi awal. Sebab, jika sudah berjalan akan jauh lebih hemat, karenanya biaya industri bisa jauh lebih murah. "Saat ini audit energi belum menjadi satu kewajiban, tapi kita berusaha sadarkan ke dunia usaha perlunya berperilaku hemat," ujarnya.Sementara mengenai rencana kenaikan koefisien tarif listrik PLN untuk industri pada waktu beban puncak, menurut Andung akan diputuskan pada saat PLN dan asosiasi industri bertemu pada Rabu (3/8/2005) pekan depan."Akan saya katakan ke PLN ada beberapa macam industri yang proses produksinya tidak bisa dialihkan ke luar beban puncak seperti industri kimia, baja dan tekstil," tandasnya.Dijelaskan Andung, ancaman kalangan industri yang akan beralih penggunaan energinya dari listrik ke BBM, jika diberlakukan kenaikan koefisien tarif, menurutnya hal itu tidak berdasar. "Perbandingan biaya produksi, walau tarif listrik menjadi naik di waktu beban puncak masih lebih kompetitif menggunakan listrik daripada BBM," tandasnya.Ketika ditanya usulan Departemen Perindustrian tentang berapa kisaran kenaikan koefisien yang tepat, Andung menyebutkan pihaknya akan meminta PLN memberikan kenaikan yang hasilnya bisa diterima optimum bagi pelaku usaha dan PLN."Pelaku usaha seharusnya sadar dengan meningkatnya penggunaan listrik pada waktu beban pucak dapat mengakibatkan subsidi BBM naik, karena PLN gunakan BBM di saat waktu beban puncak," ujarnya.Andung menambahkan peralihan produksi ke luar beban puncak tidak akan mengakibatkan terjadinya pengangguran. Dia juga meminta pelaku usaha bila memungkinkan menggunakan energi dengan batu bara, karena dapat menghemat 30-40 persen. (san/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads