"Para wanita dan ibu-ibu negara itu akan gembira mendengar kabar pembalut wanita telah diberi pembebasan pajak 100% dan diturunkan ke tingkat pajak nol," kata Menteri Keuangan India Piyush Goyal seperti dikutip detikFinance dari CNN, Selasa (24/7/2018).
"Sekarang tidak akan ada lagi pajak untuk pembalut wanita," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, sejumlah barang dikenakan pajak yang berbeda-berbeda di masing-masing negara bagian. Hal ini menyebabkan penundaan panjang dan beberapa pungutan tambahan saat memindahkan barang ke seluruh negeri.
Setiap produk yang dijual di India sekarang menarik tarif pajak yang sama di seluruh negeri, dibagi menjadi lima bagian, mulai dari 0% hingga 28%.
Tapi pembalut wanita, yang harganya antara lima rupee ($ 0,08) dan 12 rupee ($ 0,20), masing-masing dikenakan pajak sebesar 12%, meskipun barang-barang lain seperti kontrasepsi dikecualikan. Keputusan itu pun memicu badai protes, dengan petisi oleh anggota parlemen India Sushmita Dev yang menerima lebih dari 400.000 tanda tangan.
Dev berterima kasih kepada semua pendukungnya, dan juga mengkritik pemerintah karena mengambil waktu terlalu lama, yakni lebih dari satu tahun untuk menghapus pajak pada pembalut wanita. India pun kini bergabung dengan Irlandia, Kenya dan Kanada sebagai salah satu dari sedikit negara di mana produk saniter bebas pajak.
"Jelas pemerintah telah mengajukan argumen sembrono selama satu tahun dan menunda itu," katanya.
Beberapa kelompok advokasi dan selebritis lainnya juga memprotes pajak, termasuk kampanye viral yang disebut #LahuKaLagaan - atau "pajak atas darah". Orang India pun ramai merayakan pembebasan pajak baru ini di media sosial.
Meski demikian, produk kesehatan feminin tetap tidak terjangkau oleh sebagian besar wanita India. Ada jutaan wanita di daerah pedesaan yang miskin menggunakan kain atau bahkan serbuk gergaji, abu dan daun sebagai gantinya. Kurangnya kebersihan menstruasi yang tepat dan sanitasi telah dikaitkan dengan fakta banyaknya perempuan putus sekolah dan produktivitas yang lebih rendah di tempat kerja.
Menurut Survei Kesehatan Keluarga Nasional India, lebih dari 40% wanita India berusia 15 hingga 24 tahun tidak memiliki akses ke produk sanitasi selama periode mereka.
Tonton juga video: 'Protes Besar-besaran Tolak Kenaikan Pajak di Yordania'
(eds/ang)










































