Tak banyak orang Indonesia di tanah air yang mengenalnya. Namun bagi banyak pekerja migran di Taiwan, kisah hidup Lili menjadi bukti bahwa perantauan tidak selalu berakhir sebagai pekerja. Ada yang berhasil naik kelas menjadi pengusaha, bahkan membangun bisnis yang kini menghasilkan omzet ratusan juta rupiah setiap bulan.
Perjalanan itu tidak dimulai dari dapur restoran yang ramai pelanggan seperti sekarang. Jauh sebelumnya, Lili datang ke Taiwan sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) dengan membawa cerita pahit akibat krisis ekonomi yang menghantam usahanya di kampung halaman.
Sebelum merantau, Lili sebenarnya sudah memiliki usaha sendiri di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur. Namun ketika krisis moneter melanda Indonesia, bisnis yang dijalankannya ikut terpuruk. Banyak pelanggan berutang dan tak mampu membayar. Modal usaha perlahan habis hingga akhirnya ia terpaksa menutup usahanya.
"Awalnya kerja, itu tahun 2000. Kerjaannya Jaga orang tua, jaga orang sakit. Mulai dari mandiin, masakin, apa aja lah," kata Lili saat ditemui detikFinance di rumah makannya, Kaohsiung, Selasa (24/7/2018).
"Jadi TKI karena (krisis) moneter, saya juga dulu buka warung di Indonesia, buka toko, lalu kena moneter, uang pada di orang-orang dan nggak kembali. Gara-gara diutang orang nggak bisa kembali, modal habis. Kita lari ke Taiwan," sambungnya.
Taiwan dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Lili, negara tersebut dinilai lebih aman bagi pekerja migran dibanding sejumlah negara tujuan lainnya. Ia pun mulai menjalani kehidupan baru sebagai perawat lansia dan orang sakit.
Tahun demi tahun berlalu. Di negeri rantau itu, Lili tidak hanya bekerja dan menabung, tetapi juga menemukan pasangan hidup. Pada 2006, ia menikah dengan pria asal Taiwan yang kemudian menjadi pendamping dalam perjalanan hidup dan bisnisnya.
Meski menikah dengan warga lokal, kesuksesan yang diraihnya saat ini bukanlah hasil warisan atau suntikan modal besar dari sang suami. Semua dibangun perlahan dari tabungan hasil bekerja dan keberanian mengambil risiko.
"Semuanya dari nol. Kalau yang dimodalin kan yang suaminya kaya, tapi kan suamiku nggak kaya. Jadi kita berjuang sendiri. Makanya alhamdulillah, nomor satu dia nggak kaya, yang penting muslim, mualaf ikut saya. Masalah uang kita bisa cari," katanya.
Saat pertama kali bekerja di Taiwan, penghasilan Lili sebagai TKI tergolong cukup besar pada masanya. Ia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung sebagai bekal masa depan.
Setelah menikah, ia sempat bekerja di rumah sakit. Namun pekerjaan tersebut membuatnya merasa kelelahan karena jam kerja yang panjang. Di titik itu, Lili mulai memikirkan cara lain untuk mencari penghasilan.
Pilihannya jatuh pada satu hal yang paling ia sukai, memasak.
Awalnya ia hanya menerima pesanan makanan dari sesama warga Indonesia. Kue, kerupuk, peyek, sambal, hingga berbagai masakan rumahan dibuat sendiri dari dapur rumahnya. Pelanggannya sebagian besar adalah pekerja migran yang tidak memiliki waktu atau kesempatan untuk keluar membeli makanan Indonesia.
"Jadi mulai jual kue-kue, peyek, kerupuk, apa saja deh yang orang pesan. Ya sambel juga. Terus kirim ke teman-teman yang (kerjanya) jaga orang tua, yang nggak bisa keluar. Pesen apa saya masakin. Terus ikut lomba-lomba masak, alhamdulillah saya suka menang. Terus banyak yang bilang, 'masakan kamu enak' ko nggak buka warung'" cerita Lili.
Pujian dari pelanggan membuat kepercayaan dirinya tumbuh. Ia mulai membayangkan membuka usaha kuliner yang lebih serius. Namun mewujudkan mimpi itu tidak semudah yang dibayangkan.
Membuka usaha makanan di Taiwan membutuhkan modal besar, lokasi yang tepat, serta keberanian menghadapi kemungkinan gagal. Bahkan yang paling berat adalah mengalahkan keraguan diri sendiri. Lili sempat khawatir masakannya tidak diterima pasar.
Dukungan sang suami akhirnya membuatnya mantap melangkah. Pada 2010, ia membuka warung pertamanya dengan modal sekitar 300.000 dolar Taiwan atau setara Rp 138 juta saat itu. Sebagian modal berasal dari tabungan, sebagian lagi dari pinjaman keluarga.
Sayangnya, usaha pertamanya tidak berjalan mulus. Lokasi yang kurang strategis dan kerap dilanda banjir membuat warung tersebut hanya bertahan sekitar dua tahun.
"Cuma dua tahun karena tempatnya sering banjir, di daerah agak kampung, di Kaohsiung juga. Terus akhirnya tutup. Setelah tutup, terus kita jualan online saja di rumah," jelasnya.
Kegagalan itu tidak membuatnya menyerah. Setelah menutup warung, Lili kembali berjualan dari rumah secara online sambil menunggu kesempatan berikutnya.
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance |
Kesempatan datang pada 2016.
Ia kembali membuka usaha kuliner, kali ini di lokasi yang jauh lebih strategis, dekat Stasiun Kaohsiung. Keputusan tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan bisnisnya. Pelanggan berdatangan, dan hanya dalam waktu sekitar dua bulan modal yang dikeluarkan sudah kembali.
Keberhasilan itu membuat usahanya berkembang semakin cepat. Bahkan sejumlah mahasiswa, akademisi, dan warga Indonesia di Taiwan mendorongnya untuk membuka restoran yang lebih besar dan lebih nyaman.
"Setelah buka di tempat terakhir itu, terus banyak mahasiswa sama orang-orang, dosen-dosen dari Indonesia menyarankan saya buka restauran yang agak bagus, nggak jadi satu sama orang-orang pekerja di sana. Akhirnya cari tempat terus buka di sini juga (tempat kedua)" kata dia.
Perlahan tetapi pasti, bisnis yang dimulai dari dapur rumah itu tumbuh menjadi usaha yang mapan.
Hasilnya kini terlihat nyata. Lili berhasil membeli rumah di Taiwan secara tunai dengan nilai sekitar 5,5 juta dolar Taiwan atau setara Rp 2,6 miliar. Usaha kulinernya juga menghasilkan omzet rata-rata sekitar 300.000 dolar Taiwan atau sekitar Rp 140 juta setiap bulan.
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance |
Namun bagi Lili, pencapaian terbesar bukanlah rumah atau omzet yang terus bertambah. Yang paling membahagiakan adalah melihat sejauh mana hidupnya berubah sejak pertama kali datang ke Taiwan sebagai pekerja migran yang kehilangan usaha di kampung halaman.
"Makanya alhamdulillah sekali saya sekarang terus bersyukur. Bisa lebih untuk makan. Mulai semuanya dari 0. Dulu kulkas saja beli bekas. Itu yang masak saya sendiri. Pegawai waktu itu cuma dua, sekarang saya sudah punya 18 karyawan, alhamdulillah," tuturnya.
Dari seorang pemilik warung yang bangkrut akibat krisis moneter, menjadi pekerja migran di negeri orang, hingga akhirnya memiliki restoran dan puluhan karyawan, perjalanan Lili adalah cerita tentang ketekunan, keberanian memulai kembali, dan keyakinan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
Saksikan juga video 'Cerita Mantan TKI yang Kini Sukses Ternak Ayam Raup Miliaran':
[Gambas:Video 20detik] (fdl/ang)












































Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance