Industri Elektronik Belum Akan Naikkan Harga
Selasa, 02 Agu 2005 19:50 WIB
Jakarta - Kendati industri-industri elektronik di Indonesia mengalami kerugian sejak Maret, namun mereka belum berencana menaikkan harga produksi elektroniknya. Hal itu dilakukan karena terjadinya penurunan permintaan barang elektronik yang besarnya mencapai 20 persen. "Kerugian disebabkan naiknya biaya produksi akibat kenaikan harga BBM dan melemahnya rupiah terhadap dolar," kata Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik Indonesia Lee Kang Hyun di sela-sela acara Samsung Digital Hope 2005 di Hotel Mulia, Jalan Asia Afrika, Jakarta, Selasa (2/8/2005).Lee yang juga dirut Samsung Indonesia mengungkapkan, sejak Maret industri elektronik mengalami kesulitan. "Tapi kami sulit untuk menaikkan harga karena daya beli masyrakat ketika harga BBM naik daya beli masyarakat menurun," katanya.Akibatnya produksi sejumlah industri elektronik tidak dapat mencapai 100 persen. Akibat melemahnya rupiah menyebabkan biaya bahan baku yang sebagian besar diimpor menjadi lebih mahal. Tapi ada beberapa jenis barang elektronik yang mengalami kenaikan. Namun kenaikan itu tidak sesuai dengan targetnya. "Mesin cuci, kulkas dan AC ada kenaikan 10 persen. Barang IT sebesar 20 persen dan handphone naik 30 persen," ujar Lee.Penjualan elektronik di tingkat lokal pada semester I rata-rata mencapai US$ 350 juta. Itu tidak sesuai dengan targetnya yang sebesar US$ 500 juta.
(mar/)











































