PLN Targetkan Pembangkit Listrik Jawa Bebas BBM Tahun 2006
Rabu, 03 Agu 2005 14:04 WIB
Jakarta - PLN menargetkan seluruh pembangkit di Jawa bebas BBM pada tahun 2006. Langkah itu merupakan bagian dari strategi energi baru yang akan memanfaatkan batubara dan gas alam secara besar-besaran.Demikian disampaikan Menko Perekonomian Aburizal Bakrie dalam pertemuan dan diskusi di Menara Kadin, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (3/8/2005).Aburizal atau Ical menjelaskan, dengan pemanfaatan baru bara sebagai basis energi pembangkit, akan ada penghematan hingga 4,5-5 sen dolar per kwh.Dijelaskan, strategi energi baru yang mulai diterapkan berupa pemanfaatan besar-besaran batubara dan gas alam untuk pasar domestik dan ekspor BBM beserta minyak mentah. Selain itu juga akan diupayakan peningkatan produksi minyak dari Blok Cepu dan Lapangan Jeruk. Khusus di industri, penggunaan gas dan batubara akan menekan biaya sebesar 30 pesen dari harga BBM yang bersubsidi juga hampir 100 persen untuk BBM yang tidak bersubsidi. Pada kesempatan itu Ical juga menjelaskan, perekonomian Indonesia tumbuh selama kuartal I-2005 tumbuh 6,3 persen yang didorong oleh pertumbuhan investasi sebesar 15 persen dan peningkatan ekspor 13,4 persen dan peningkatan konsumsi rumah tangga 3,2 persen. Selain itu pertumbuhan ekonomi juga didorong oleh pengeluaran pemerintah yang mengalami kontraksi 8,5 persen. Sampai akhir tahun 2005, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 6 persen. "Pertumbuhan ekonomi ini lebih seimbang dan berkesinambungan karena tidak hanya didukung oleh sektor konsumsi saja," kata Ical.Tingkat inflasi meningkat karena terjadi kenaikan harga BBM, melemahnya nilai tukar rupiah dan kelebihan likuiditas dalam sistem keuangan. Nilai tukar rupiah semester I-2005 rata-rata mencapai Rp 9.412 per dolar AS. Sedangkan rata-rata pada minggu kedua Juli mencapai Rp 9.700 per dolar AS. Ical memperkirakan pada semester II-2005 nilai tukar rupiah rata-rata mencapai Rp 9.750 per dolar AS.Melemahnya nilai tukar rupiah menurut Ical, karena menguatnya dolar terhadap seluruh mata uang, permintaan dolar yang meningkat, kelebihan likuiditas dari sistem keuangan, naiknya laju inflasi dan sentimen negatif dari naiknya harga minyak dunia. Ical juga membeberkan sejumlah reformasi ekonomi antara lain dengan membenahi ekonomi yang berbiaya tinggi dengan cara pemberantasan pungli di pelabuhan. Selain itu reformasi ditempuh melalui percepatan pembangunan infrastruktur khususnya akses ke pelabuhan, pemberantasan korupsi dan peningkatan kesejahteraan pegawai negeri, pemberantasan penyelundupan dan perbaikan keamanan.
(qom/)











































