Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala Mansury mengatakan, pihaknya membidik pertumbuhan penumpang baru dari beberapa rute internasional. Salah satunya adalah rute Denpasar-Mumbai.
"Orang yang datang dari India ke Indonesia setiap tahun itu hampir 500 ribu," katanya di markas detikcom, Jakarta Selatan, Senin (6/8/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demi mencapai target laba tahun ini, Garuda juga tengah mengevaluasi 11 rute penerbangan yang pertumbuhan penumpangnya negatif. Sebelumnya, maskapai pelat merah tersebut sudah menutup 11 rute penerbangan yang biaya operasionalnya lebih besar dari pendapatan.
"Ada 22 rute yang kita evaluasi, dan 11 rute yang negatif sudah kita tutup. Masih ada 11 lagi yang negatif," kata Pahala.
Meski enggan mengungkapkan rute-rute yang akan ditutup, namun Pahala mengatakan rute-rute tersebut adalah yang baru dibuka dalam enam bulan terakhir. Rute-rute tersebut akan dicoba untuk direstrukturisasi seperti menambah satu daerah baru pada rute terkait atau bahkan mengurangi titik transit.
"Contohnya Medan-Singapura. Kita sudah coba restrukturisasi tapi kelihatannya sulit dan sangat sensitif terhadap harga. Lainnya seperti Makassar-Medan, Jakarta-Ujung Pandang-Sorong diubah jadi Jakarta-Sorong," kata Pahala.
Sebagai informasi, pada periode Januari-Juni 2018 Garuda Indonesia sendiri telah membuka lima rute baru di antaranya Makassar-Palembang, Ambon-Bau Bau, Jakarta-Sorong, Denpasar-Mumbai, dan Makassar-Medan-Madinah.
Selain itu Garuda Indonesia juga menambah tiga destinasi baru yakni Denpasar-Xi'an, Denpasar-ZhengZhou, dan Makassar-Selayar.
Tahun ini Garuda Indonesia menargetkan bisa mencetak laba bersih sekitar US$ 8-10 juta. Namun target itu ditinjau kembali melihat adanya depresiasi nilai tukar rupiah dan naiknya harga bahan bakar avtur.











































