Pengusaha Curhat ke Sri Mulyani Soal Diskriminasi Ekspor

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 07 Agu 2018 16:28 WIB
Foto: Hendra Kusuma
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hari ini menemui para eksportir di Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Bea dan Cukai). Di situ, Sri Mulyani juga mempersilahkan para eksportir menyampaikan keluhannya.

Salah satunya datang dari eksportir nanas dan pisang, Great Giant Food (GGF). Keluhan disampaikan oleh Direktur Hubungan Pemerintah GGF Welly Soegiono.

Dia mengeluh karena selama ini eksportir Indonesia mendapat diskriminasi dari sejumlah negara tujuan ekspor. Mereka harus membayar bea masuk yang terbilang lebih tinggi dibandingkan eksportir dari negara lain.

"Problemnya adalah, justru di ekspor, kita mengalami masalah terutama pengenaan bea masuk, contohnya ke Korea, pisang kita 30%, tapi Vietnam ke Korea beda. (Bea masuk) pisang kita ke Jepang 3% lebih mahal dari pada Filipina. Kemudain ke Eropa 15%, Filipina nol persen," ujarnya Selasa (7/8/2018).



Selain itu, saat ini eksportir Indonesia masih kesusahan masuk ke China karena persoalan hubungan dagang.

"Nanas ke China kita nggak bisa masuk, karena belum ada perundingan pemerintah Indonesia dengan China. China ambil dari Meksiko yang jauh dari dia, kenapa dia nggak ambil yang lebih dekat, di Indonesia," ujarnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pun menampung keluhan eksportir. Dia berjanji bakal menindaklanjuti apa yang menyulitkan eksportir untuk ekspor ke luar negeri.

"Untuk yang pertama saya terima kasih optimisme besar, tarif diskriminatif Indonesia dengan yang lain. Ini adalah kritik yang sangat bagus, dan saya akan sampaikan ke Menko Perekonomian, Saya akan sampaikan langsung kepada kabinet," ujarnya.



Sri Mulyani menilai seharusnya tidak ada diskriminasi yang dilakukan negara negara tujuan ekspor Indonesia. Pemerintah bisa melobi agar tak ada diskriminasi.

"Seharusnya Indonesia bisa lobi, terutama negara sesama Asean, Asia. Apalagi kalau dari sesama Asean, seharusnya nggak boleh ada diskriminasi," tambahnya. (dna/dna)

Tag Terpopuler