Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 08 Agu 2018 12:07 WIB

Di Depan Ahli Kopi Darmin Cerita Cikal Bakal Industri Kopi di RI

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution pagi ini berkumpul bersama para periset dari PT Riset Perkebunan Nusantara, di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Dari paparannya Darmin menceritakan mengenai cikal bakal kopi Nusantara. Darmin menjelaskan, di zaman dahulu para penikmat kopi merupakan negara negara kaya. Namun saat ini mulai banyak negara yang memproduksi dan menikmati kopi.

Seperti Indonesia, yang saat ini memiliki 21 jenis kopi yang khas. Beberapa jenis kopi Indonesia berhasil diimpor ke beberapa negara lain, namun proses olahan kopi di Indonesia masih kurang canggih.

"Nanti dikeringkan. Nanti proses selanjutnya ada di negara maju. Nilai kopi yang dihasilkan dari 10 dia (negara lain) dapat 7- 8 bagian kita dapat 2 bagian," ujar dia.



Ia menjelaskan, ia selalu menduga bahwa kopi berasal dari barat. Namun ternyata banyak hal yang baru ia ketahui bahwa Indonesia lebih dulu memiliki pengolahan kopi dibandingkan Amerika.

"Saya selalu mengira kopi lebih dulu dikembangkan di Amerika latin dibanding Indonesia karena memang mereka lebih dominan dibanding kita. Tetapi semakin lama semakin saya tahu bahwa Indonesia dulu baru Amerika latin. Bahkan saya masa kecil saya tidak pernah saya sadari ada di daerah dimana salah satu kopi terbaik di dunia di hasilkan sejak hampir 200 tahun lalu," kata dia

Bahkan kata dia sambil bercerita banyak anak muda Mandailing yang dibawa ke Eropa untuk sekolah di tahun 1800. Banyak diantara anak anak muda tersebut disekolahkan untuk mendalami kopi.

"Pada waktu di Jawa belum ada orang sekolah ke eropa dan saya nggak paham itu kenapa bisa-bisanya. Baru belakangan saya tahu ini urusan kopi di belakangnya. Karena yang namanya William Iskander itu dia pada waktu pulang dari Belanda dia itu bikin sekolah dan ternyata dia bikin sekolah menggunakan gudang kopi belanda. Jadi semua ada hubungannya dengan kopi," kata dia.

Darmin menceritakan, hingga saat ini kopi bukan lagi minuman penyegar. Namun, sudah menjadi sebuah gaya hidup.

"Jadi pada saat ini di era ke tiga dari golden wave gelombang emas ke tiga dari kopi dia dikonsumsi bukan hanya sebagai minuman penyegar. Namun menjadi suatu gaya hidup. Bukan penikmat jadi tapi gaya hidup. Dan tentu saja busa menjadi sumber edukasi kekayaan nusantara," jelas dia.

Hal yang menarik dari semakin tingginya konsumsi kopi, produksi kopi global masih defisit. Darmin menjelaskan, dari data coffe market report Jini 2018. Kopi dunia defisit 3,3 juta karung dengan bobot per satu karungnya yaitu 60 kg.


Kemudian pada 2014 defisit 2,2 juta karung kemudian pada tahun 2015 suprlus 1,2 juta karung di tahun 2016. Kemudian kembali defisit 1,4 juta karung 2017.

"Di sisi lain banyak farian kopi termasuk kopi arabica terbaik didunia yang sudah dikenal secara internasional. Ada kopi Gayo, Mandailing, Kerinci, ada Kintamani, Flores, Bajawa, Toraja, Kalosi yang punya cita rasa dan nama tersendiri," jelas dia.

Disamping Darmin menjelaskan, saat ini konsumsi kopi nasional mengalami pertumbuhan yang pesat. Pihaknya mencatat dalam 5 tahun terakhir rata-rata ada 8,8% per tahun.

"Itu berarti dua kali lipat dari peningkatan pendapatan perkapita. Jadi kalau pendapatan perkapita naik 1% dia konsumsi kopi naik 2%. Sementara itu pertumbuhan kopi justru stagnan bahkan sedikit negatif kira- kira 0,3% per tahun dalam periode yang sama sehingga apabila kita tidak antisipasi ini tidak tertutup kemungkinan 2 -3 tahun mendatang kita jadi importir kopi walaupun beberapa especialty-nya diekspor tapi untuk konsumsi orang banyak kita impor, jelas dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed