Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 08 Agu 2018 14:42 WIB

Momen Ini Bikin TKA China dan Lokal di Morowali Makin Akrab

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Danang Sugianto Foto: Danang Sugianto
Morowali - Hubungan antara Tenaga Kerja Asing (asal) China dengan tenaga kerja lokal di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) ternyata cukup harmonis. Mereka sering berinteraksi dalam kesempatan tertentu meski berbeda bahasa.

Salah satu staf manajemen IMIP, Dedi Kurniawan mengatakan hubungan antara tenaga kerja lokal dengan TKA China sengaja dibangun oleh perusahaan. Seperti penempatan mess yang sengaja dicampur antara TKA China dan TKI yang berasal dari luar Morowali.

"Sebelah saya itu TKA China, teman saya juga. Jadi dicampur, walaupun tidak satu kamar. Saya satu kamar sama pekerja di pabrik orang lokal," tuturnya di Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu (8/8/2018).

Tidak dibatasinya hubungan antar pekerja membuat komunikasi antara TKA dengan TKI berjalan harmonis di sini. Meski berbeda bahasa, namun ada beberapa hal yang membuat mereka melebur.

Seperti misalnya momen Piala Dunia 2018 kemarin. Mereka berinisiatif untuk menggelar acara nonton bareng.

Sedikit sulit memang bagi antar pekerja untuk berkomunikasi. Namun setidaknya ada satu kata yang mereka semua bisa pahami.

"Untuk TKA sebenarnya ada pelatihan bahasa Indonesia seminggu 3 kali. Sebagian mereka sudah bisa tapi terbata-bata, selebihnya bahasa isyarat. Jadi saat nonton satu-satunya bahasa yang dimengerti ya gol," tuturnya.



Selain itu, IMIP juga mengikut sertakan para TKA China untuk mengikuti serangkaian lomba dalam rangka peringatan hari kemerdekaan RI.

Ada beragam perlombaan olahraga yang digelar perusahaan, seperti voli, futsal, basket hingga tarik tambang. Menariknya manajemen mengharuskan dalam satu tim berisi TKA dan TKI.

Hubungan TKA dan TKI juga terjalin atas dasar agama. Ada beberapa TKA China yang beragama muslim memilih makan di kantin TKI. Alasannya di kantin TKA terdapat makanan non halal.

Melalui kegiatan-kegiatan itu, Dedi kini memiliki sahabat seorang TKA China yang bernama Li Qiang. Kebetulan temannya itu tinggal sebelah kamarnya.

"Lucu, kadang-kadang dia suka curhat kalau kangen sama istri dan anaknya," kata Dedi.

Li Qiang sendiri sudah bekerja di IMIP selama hampir 7 tahun. Dia kini menjabat sebagai manajer pengembangan kawasan. Bahkan karena sudah begitu lama kerja di kawasan ini dan dekat dengan para TKI dia mendapatkan nama panggilan Arifin.

"Kadang kita ribet panggil namanya dia, ya sudah kita panggil Arifin. Lama-lama dia nengok kalau kita panggil Arifin. Yang enak kalau abis cuti dia bawain kita oleh-oleh, biasanya teh. Kita paling sering minta teh hijaunya," ujarnya.

Li Qiang mengaku tak tahu arti dari nama yang dia dapatnya. Namun dia mengaku cukup bahagia ketika tahu bahwa nama panggilanya memiliki arti bijaksana.

"Saya tidak tahu artinya, mereka panggil saya Arifin. Saya banyak teman di sini," akunya.

Li Qiang mengaku rutin pulang ke negaranya setiap 3 bulan sekali. Selama 2 minggu biasanya dia berada di negaranya untuk melepas rindu dengan istri dan anaknya.

Sebagai TKA China yang bekerja paling lama, Li Qiang melihat jumlah TKA China di kawasan industri itu semakin berkurang. Selain faktor kontrak kerja, banyak juga TKA China yang ternyata tidak betah.

"Banyak orang China juga yang tidak betah di sini, ingin pulang. Jadi hanya tugas saja, selesai kontrak ya pulang, karena jauh dari keluarga," tuturnya.

(das/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed