Tujuh Faktor Pemicu Tingginya Harga Minyak Dunia

Tujuh Faktor Pemicu Tingginya Harga Minyak Dunia

- detikFinance
Sabtu, 06 Agu 2005 13:24 WIB
Jakarta - Harga minyak dunia yang terus menggila hingga mencapai level US$ US$ 62,47 per barel, ditakutkan bisa menyeret resesi ekonomi global. Setidaknya ada tujuh faktor yang membuat kenapa harga minyak begitu tinggi yang bisa terus membayangi pergerakan harga minyak kedepan.Kenaikan harga minyak sampai saat ini sudah mencapai 30 persen dan mencatat harga tertingginya sejak awal tahun 1980-an. Kondisi ini sangat merisaukan negara-negara pengimpor minyak karena beban ekonomi semakin tinggi. Ancaman tingginya inflasi dan terbatasnya pertumbuhan ekonomi mulai tampak.Seperti dikutip BBC News Online, Sabtu (6/8/2005), sedikitnya ada tujuh masalah yang memicu tingginya harga minyak dunia.Pertama, meningkatnya permintaan. Ini terlihat dari ekspansi ekonomi global yang menurut International Energy Agency telah menyebabkan permintaan minyak terbesar selama 24 tahun terakhir.Permintaan minyak yang di luar ekspektasi itu terutama di negara-negara industri seperti Cina yang sedang mengalami booming ekonomi. Permintaan minyak Cina hingga saat ini sudah lebih tinggi dari 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah analis juga memperkirakan kondisi ini akan terus berlangsung sampai tujuh tahun ke depan.Selain itu, pertumbuhan otomotif di AS dengan keluarnya mobil seri Sport Utility Vehicles (SUV) yang sedang menjadi tren juga memicu peningkatan pemakaian minyak yang lebih besar.Faktor kedua adalah menurunnya persediaan atau stok minyak. Akibatnya, sejumlah perusahaan minyak mencoba lebih efisien dalam beberapa tahun terakhir karena ketersediaan minyak menipis dan menggangu suplai minyak.Stok minyak yang menurun ini karena produksi di beberapa negara penghasil minyak terbesar seperti Venezuela dan Nigeria menurun akibat kondisi politik dalam negaranya. Ketiga, strategi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries). Negara-negara produsen minyak OPEC yang mengekspor setengah kebutuhan minyak dunia selalu berusaha menjaga harga dan mengatur suplai minyak ke pasar.Sebelumnya, Sekjen OPEC cenderung menunggu harga agar bisa masuk ke pasar sebelum menyetujui pengurangan produksi. Namun OPEC sekarang justru lebih agresif dengan mengumumkan pengurangan produksi untuk mengantisipasi melemahnya harga minyak.Keempat, aksi spekulator. Melihat rendahnya persediaan minyak dan keputusan OPEC untuk menjaga produksinya lebih rendah telah membuat ekspektasi pasar tentang proyeksi harga minyak semakin tinggi, apalagi jika suplai minyak juga terancam.Beberapa spekulan profesional belum menghilangkan semua ketidakpastian ini. Malahan investor dan spekulator semakin ramai bertaruh bahwa harga minyak bisa makin tinggi yang telah memperburuk tekanan di pasar.Kelima, kerusuhan di Timur Tengah. Kebutuhan minyak dunia saat ini masih sangat tergantung kepada negara-negara Timur Tengah. Kerusuhan yang terjadi di Irak dan Arab Saudi telah mencemaskan suplai minyak. Berkurangnya ekspor Irak karena sabotase di beberapa fasilitas minyaknya dan serangan terhadap pekerja asing di Arab Saudi oleh Al-Qaeda juga meningkatkan tekanan ketidakpastian stok minyak. Keenam, masalah politik di luar Timur Tengah seperti Nigeria yang mengalami kerusuhan etnis dan Venezuele yang dilanda aksi mogok kerja berpotensi juga menimbulkan ketidakseimbangan ekspor dan memicu kenaikan harga. Selain itu kekhawatiran tentang sengketa minyak antara pemerintah Rusia dengan Yukos, perusahaan minyak terbesar di negara itu, juga mengancam produksi minyak Rusia. Yukos memompa lima sumur minyak Rusia dengan produksi 8,5 juta barel per hari. Namun adanya kasus korupsi dan terbongkarnya masalah pajak oleh pemerintah telah menggangu kinerja perusahaan itu.Ketujuh, ketidakcukupan kapasitas kilang minyak AS. Hal ini terjadi karena rendahnya persediaan minyak di AS. Akibatnya kilang-kilang minyak di AS dipaksa untuk meningkatkan produksi di luar kemampuannya untuk mencari sumber minyak baru.Selain faktor utama di atas, harga minyak dunia juga rentan terhadap isu-isu cuaca seperti badai karena bisa menghambat eksplorasi dan distribusi minyak. Seperti badai Emily yang menyapu teluk Meksiko sebelah selatan, dan sebagian besar fasiltas pengeboran Venezuela. Kabar meninggalnya Raja Fhad dari Arab Saudi juga dibikin heboh oleh para spekulator. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads