Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 19 Agu 2018 17:19 WIB

Dapat Bantuan China, Turki Untung atau Buntung?

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Kiagoos Auliansyah/Infografis Foto: Kiagoos Auliansyah/Infografis
Jakarta - Memiliki musuh yang sama yakni Amerika Serikat (AS), membuat China berencana memberikan bantuan kepada Turki. Harapannya agar ekonomi Turki membaik.

China akan memberikan bantuan likuiditas kepada Turki melalui surat utang. Turki akan menerbitkan surat utang dalam bentuk Yuan.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance ( Indef) Bhima Yudhistira, yang paling diuntungkan dari aliansi antara kedua negara tersebut adalah China. Sedangkan bagi Turki hanya bersifat sementara.

"Pertama, krisis Turki dikhawatirkan memicu efek domino ke China karena masuk dalam kelompok emerging market. Dalam seminggu terakhir bursa saham China ditutup melemah -0,8% seiring memburuknya kondisi Turki dan perang dagang dengan AS," tuturnya kepada detikFinance, Minggu (19/8/2018).



Dengan memberi pinjaman ke Turki, China berharap kepanikan likuiditas bisa mereda. Tapi menurut Bhima itu hanya obat sementara, mengingat Turki memiliki masalah struktural defisit transaksi berjalan 5,9% terhadap PDB dan defisit anggaran 2,8%. Artinya dana asing masih rentan keluar dari Turki.

Lalu, bagi China menolong Turki bisa membuka ruang untuk menguasai ekonomi Global. Posisi tawar China akan lebih kuat khususnya terhadap AS.

"Tensi perang dagang China dengan AS akan semakin meruncing karena Turki adalah anggota Nato yang sebelumnya loyal ke AS," tambahnya.

China sendiri sudah cukup agresif untuk masuk ke Turki. Beberapa perusahaan China dalam beberapa tahun kebelakang sudah masuk ke industri telekomunikasi dan pelabuhan di Turki.

China juga memiliki peluang untuk memberi pinjaman dengan jaminan aset BUMN Turki. Di sinilah China memiliki peluang besar untuk memperkuat dominasinya.

"Di ujung jalan dominasi China memakan korban seperti Srilanka dan Maladewa yang akhirnya harus menyerahkan pengelolaan proyek infrastrukturnya kepada perusahaan China," tambahnya.



Turki pun, kata Bhima bisa bernasib sama dengan kedua negara itu sebagai korban dominasi utang China. Apa lagi bunga dari surat utang Turki untuk tenor 10 tahun mencapai 21,17%.

"Beban bunga yang tinggi tentunya menambah resiko default karena Turki tetap harus melunasi utang ke China," tutupnya.


Saksikan juga video ' Ditekan Secara Ekonomi, Erdogan Serukan Perjuangan Nasional ':

[Gambas:Video 20detik]

(das/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com