Follow detikFinance
Senin, 20 Agu 2018 16:55 WIB

Risiko Kecelakaan Tinggi, Stuntman Dilindungi Asuransi?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Worldcarfans Foto: Worldcarfans
Jakarta - Risiko kecelakaan kerap membayangi para pemeran pengganti atau stuntman. Sebab, pekerjaan mereka ialah melakukan adegan-adegan berbahaya.

Meski begitu, para stuntman tersebut kebanyakan tak dilindungi asuransi. Kemudian, mereka pun mencari akal dengan cara mendaftar BPJS secara mandiri.

"Belum ter-cover sih, belum ada yang benar-benar menjamin, teman-teman, mereka mensiasati BPJS atau Jamsostek. Tapi spesial buat cover mereka sebagai stuntman itu belum," kata Pendiri Stunt Fighter Community (SFC) Deswyn Pesik kepada detikFinance, Senin (20/8/2018).


Lanjut dia, data pekerjaan mereka pun tercatat bukan sebagai stuntman. Biasanya, mereka terdaftar di BPJS sebagai karyawan hingga wiraswasta.

"Bilangnya begitu (kantoran) rata-rata bilangnya, kalau didata cuma entertainment atau apalah, mereka tidak sebutin stuntman. Datanya bukan stuntman, wiraswasta mungkin," ungkapnya.

Dia mengatakan, kondisi di Indonesia berbeda dengan di luar negeri. Biasanya, stuntman di luar negeri berada di bawah naungan sebuah organisasi. Kemudian, organisasi tersebut mengambil potongan pendapatan untuk iuran asuransi.

"Iya iuran sendiri itu bicara asuransi pribadi, bukan profesional. Kalau di luar karena anggota organisasi tersebut melakukan kebijakan masukin mereka asuransi, mungkin mereka iuran bulanan ke organisasi, atau mungkin dipotong setiap pekerjaan yang diambil," jelasnya.


Memang, pihaknya juga tak menampik ada juga rumah produksi yang mendaftarkan asuransi mereka. Biasanya, mereka terdaftar sebagai kru biasa. Lalu, ada juga rumah produksi yang turut menanggung stuntman saat terjadi kecelakaan, tapi yang diberikan tidak seberapa.

"Ditanggung, tapi tidak sesuai jadi ya kecelakaan kebijakan PH saja, mungkin bisa cuma berapa ratus ribu. Kalau saya dulu salah satu PH, saya tidak sebut, itu buat sinetron klasik yang kalau dibilang kolosal. Itu ada stuntman cidera. Saya lihat dia lakukan adegan trampolin, dia jatuh kakinya di luar matras cidera, cuma diganti uang urut aja Rp 50 ribu," tutupnya.

Soal Kualitas, Stuntman RI Menang Mental

Kualitas pameran pengganti atau stuntman di Indonesia belum bisa dikatakan baik. Sebab, masih banyak kekurangan dalam hal pengelolaan.

Tanpa membandingkan negara, Deswyn mengatakan kualitas stuntman Indonesia masih di bawah jika dibanding stuntman di luar negeri. Di luar negeri, kata dia, stuntman dididik oleh sekolah khusus tersendiri.

Kemudian, para stuntman tersebut bersertifikasi dan diatur dalam sebuah wadah organisasi.

"Kalau kualitas secara overall kita masih di bawah, karena mereka ada sekolahnya, punya organisasi, mereka ada sertifikasi. Secara overall kita masih kalah, kita cuma menang mental karena terbiasa mensiasati adegan," kata dia.

Dia mengatakan, stuntman di dalam negeri cenderung bergerak bebas. Sebab, ujar dia, belum ada yang mengatur.

"Kita masih bebas, lepas, liar, tidak ada yang mengontrol, tidak mengikuti sistem," ujarnya.

Bukan hanya itu, standar honor untuk para stuntman juga tidak ada. Sehingga, upah yang mereka terima bisa naik, bisa saja turun.

"Honor tidak ada standarisasi naik-turun, kalau cidera apakah ditanggung. Menurut saya, orang menilai mungkin orang luar pun, di Indonesia ini belum profesional," kata dia. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed