Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 20 Agu 2018 17:23 WIB

Bila Tak Ambil Bantuan China, Begini Cara Turki Lepas dari Krisis

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Mindra Purnomo Foto: Mindra Purnomo
FOKUS BERITA Krisis Ekonomi Turki
Jakarta - China menawarkan bantuan kepada Turki yang sedang dilanda krisis mata uang. Namun, Turki memiliki pilihan lain dibanding harus mengambil bantuan tersebut.

Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, pada dasarnya krisis yang melanda Turki dikarenakan fundamental ekonomi yang tidak terkendali. Pasalnya, pemerintahan Turki saat ini tengah menggenjot pertumbuhan ekonomi sehingga menimbulkan defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) yang lebar.

"Jadi memang krisis ini karena fundamental yang buruk. Karena kebijakan sangat mendorong pertumbuhan dan mereka lupa defisit transaksi berjalan melebar hampir 6%," kata dia kepada detikFinance, Senin (20/8/2018).



Dari permasalahan tersebut, Joshua menilai perlu adanya perbaikan dari bank sentral Turki, yakni dengan menaikkan tingkat suku bunga. Dengan begitu diharapkan lira atau mata uang Turki bisa kembali menguat.

Pasalnya, saat ini bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed berencana untuk menaikkan beberapa kali lagi suku bunga yang tentu akan berdampak pada nilai tukar mata uang negara berkembang termasuk lira milik turki.

"Memang solusi dari dalam negeri harus didorong. Jadi salah satunya dibenahi fiskal dulu dengan menaikkan suku bunga. Kalau tidak, lira akan terus melemah Karena dalam setahun ini dipengaruhi The Fed dan perang dagang AS-China," sambung dia.



Walaupun begitu, menarik investasi dari luar, dengan utang dari bilateral seperti China maupun dari multilateral seperti World Bank bisa jadi solusi pamungkas bila berbagai upaya sebelumnya dinilai kurang ampuh.

"Ya tadi, kalau dilihat sejauh mana. Kalau sudah dinaikkan nggak berhasil, ya tentunya mau nggak mau investasi dari bilateral supaya ada menutupi CAD kan perlu investasi dan investasi bentuk dari utang bilateral seperti China atau multilateral seperti World Bank atau IMF," tutup dia. (dna/dna)
FOKUS BERITA Krisis Ekonomi Turki
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com