Follow detikFinance
Selasa, 21 Agu 2018 17:11 WIB

Proyek Pinjaman China yang Dibatalkan Mahathir Dinilai Kemahalan

Selife Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: BBC World Foto: BBC World
Jakarta - Sebelum resmi dibatalkan oleh Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, megaproyek East Coast Railway Link (ECRL) yaitu Kereta Api Pantai Timur pernah ditangguhkan atau dihentikan sementara proses pengerjaannya pada 4 Juli 2018.

Mengutip dari Reuters, Selasa (21/8/2108) penghentian sementara proyek tersebut dilakukan setelah dua bulan pemenangan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dari PM sebelumnya yaitu Najib Razak. Penangguhan dilakukan saat Malaysia berusaha menegosiasikan kembali kesepakatan dengan China.

Pada awal Juli lalu Malaysia memberikan alasan pada China bahwa penghentian proyek tersebut terlalu mahal. Pada Juli lalu pihak Malaysia sudah berupaya untuk mengunjungi China untuk segera menegosiasikan kembali syarat-syarat kesepakatan soal proyek ECRL. Pasalnya harga dari proyek tersebut hampir 50% lebih tinggi dari perkiraan di bawah pemerintah sebelumnya.



Setelah Juli beredar informasi negosiasi, selang satu bulan kemudian pada 21 Agusus Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, akhirnya secara resmi menghentikan pembangunan megaproyek yang sedianya akan dibiayai dari pinjaman China sebesar US$ 20 miliar atau setara Rp 290 triliun.

Alasan Mahathir terkait pembatalan proyek tersebut adalah, soal kemampuan Malaysia untuk membayar utang yang diberikan China untuk pembangunan proyek infrastruktur di negeri Jiran. Proyek yang dibatalan tersebut adalah proyek dengan total biaya pengerjaan yang mencapai US$ 20 miliar atau setara Rp 290 triliun.

"Saya yakin China tak ingin melihat Malaysia jadi negara bangkrut," kata Mahathir dalam sebuah sesi press conference mengakhiri lawatan 5 harinya di China belum lama ini, seperti dikutip dari reuters, Selasa (21/8/2018).



Mengutip dari Reuters, jika proyek ini realisasi, Malaysia akan memiliki rel kereta api spanjang 688 kilometer. Jalur ini akan menghubungkan kawasan Laut Cina Selatan di pantai timur Semenanjung Malaysia. Kawasan ini memiliki rute pelayaran strategis di wilayah barat. Proyek ini merupakan bagian utama dari dorongan infrastruktur China agar kawasan asia bisa terhubung dalam rencana China's Belt and Road Initiative (BRI).

Sejak kemenangan pemilihan mengejutkan pada bulan Mei, pemerintah baru Malaysia telah berjanji untuk memotong utang nasional, membasmi korupsi dan meninjau proyek-proyek besar yang disepakati oleh pemerintahan sebelumnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed