Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 24 Agu 2018 07:18 WIB

Kisah Anak Sopir Truk yang Jadi Bos Starbucks

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Setelah menjabat dua kali sebagai CEO Starbucks, Howard Schultz akhirnya resmi mengundurkan diri dari kedai kopi paling terkenal di dunia itu

Pria yang lahir di New York pada 19 Juli 1953 mengumumkan pengunduran dirinya dengan cara memberikan memo kepada seluruh karyawannya.

Howard Schultz meninggalkan perannya sebagai CEO Starbuck pada April 2017, setelah menjabatnya sejak 1987 hingga 2000 dan kemudian kembali memipin pada 2008.

Mengutip CNBC.com, Jumat (24/8/2018). Di usianya yang menginjak 65 tahun, total kekayaan Howard Schultz mencapai US$ 2,5 miliar dan masuk ke dalam daftar orang terkaya versi Forbes.

Namun, sebelum mencapai titik kesuksesannya, Schultz merupakan bocah yang berasal dari keluarga sederhana. Dia dibesarkan di perumahan bersubidi. Ayahnya pun tidak pernah lulus dari sekolah menengah dan menjalankan banyak pekerjaan termasuk sopir truk, buruh pabrik, dan sopir taksi.

Penghasilan ayahnya tidak pernah lebih dari US$ 20.000 per tahun, dan harus menghidupi tiga anak. Itu sebabnya, Schultz tinggal di perumahan subsidi.
Kisah Anak Sopir Truk yang Jadi Bos StarbucksFoto: Istimewa

Schultz mengaku untuk mencapai titik kesuksesannya berkat belajar dari pengalaman sang ayah. Dia bilang, Fred yang merupakan ayah kandungnya adalah pria jujur dan pekerja keras.

"Keluarga kami tidak memiliki penghasilan, tidak ada asuransi kesehatan, tidak ada uang kompensasi," tulis Schultz dalam buku 'Pour Your Heart Into It: How Starbuck Built a Company One Cup at a Time'.

Bos Starbucks ini pun harus merasakan pedihnya hidup sejak berusia 12 tahun, berbagai pekerjaan dilakoninya. Sebab, pendidikan formalnya hanya sampai SMA. Namun, berkat kemahirannya dalam berolahraga dirinya mendapatkan beasiswa di Northen Michigan University dan lulus sebagai sarjana komunikasi pada 1975.

Dengan modal pendidikan yang sudah didapatkannya, Schultz memulai karirnya menjadi seorang sales and marketing di Xerox selama tiga tahun. Setelah itu, menjadi vice presiden and general manajer di Hammarplast sebuah perusahaan peralatan rumah tangga asal Swedia.

Dari pengalamannya, pada 1982 dirinya pun pindah ke Seatlle untuk bergabung dengan Starbuck sebagai direktur operasi dan marketing. Saat itu, baru terdapat empat kedai kopi.

Pada 1983, akhirnya Schultz memutuskan pergi ke Italia lantaran kagum dengan salah satu toko kopi di Milan yang menjadi tempat orang-orang bertemu dan berbagi waktu bersama di luar rumah dan kantor. Pada saat itu juga, dia resmi meninggalkan Starbuck dan mulai merintis usaha kedainya II Giornale.


Beselang empat tahun atau pada 1984, dirinya pun mengambilalih Starbucks sebagai CEO. Schultz membeli kedai kopi itu dengan bantuan beberapa investor. Pada saat itu ada 17 lokasi toko, dan saat ini ada lebih dari 28.000 lokasi Starbucks di 77 negara dan lebih dari 350.000 orang bekerja dengan dia.

Di bawah kepemimpinannya, Starbucks menjadi perusahaan dengan pertumbuhan luar biasa. Dia pun menawarkan asuransi kesehatan kepada karyawannya, baik yang paruh waktu atau karyawan tetap. Bahkan, dirinya pun mencari mitra dengan menawarkan saham perusahaannya kepada publik.

Berkar kecerdasannya, Schultz membawa Starbucks menjadi merek yang mendunia. Kesuksesan yang didapatkan seperti sekarang ini merupakan hasil dari tekad yang kuat dan ketekunan yang teguh.


"Saya masih merasa seperti anak kecil dari Brooklyn yang dibesarkan di perumahan umum," kata Schultz.

Hasil dari karirnya selamanya, banyak penghargaan yang telah diraihnya. Salah satunya adalah The Horation Alger Award bagi mereka yang telah mengatasi kesulitan untuk mencapai kesuksesan.


Saksikan juga video 'Mantan CEO Starbucks Diisukan Maju Pilpres AS':

[Gambas:Video 20detik]

(hek/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed