Ancaman Keamanan di Timteng
Harga Minyak Memuncak ke US$ 64
Selasa, 09 Agu 2005 10:04 WIB
Jakarta - Harga minyak kembali melonjak ke level tertingginya sepanjang sejarah yakni di level US$ 64 per barel. Lonjakan harga minyak ini terjadi akibat ancaman keamanan di wilayah Timur Tengah yang merupakan daerah penghasil minyak terbesar dunia. Harga minyak mentah dunia pada perdagangan Senin (8/8/2005) di New York sempat menyentuh level US$ 64 per barel, sebelum akhirnya ditutup ke level US$ 63,94 per barel.Level tersebut merupakan level tertinggi sejak New York Mercantile Exchange (NYMEX) memulai kontrak perdagangannya pada tahun 1983. Harga tertinggi sebelumnya pernah dicapai pada 3 Agustus lalu saat harga mencapai US$ 62,5 per barel. "Kenaikan harga minyak kali ini merupakan kombinasi dari banyak hal," kata analis dari Fimat, John Kilduff seperti dilansir Reuters. "Ada dua masalah di kilang yakni milik ExxonMobil di Illinois dan BP di Texas. Di samping itu juga ada masalah dari penutupan Kedubes AS di Arab Saudi dan situasi di Iran terkait program nuklirnya," kata Kilduff.Faktor lainnya adalah permintaan yang meningkat seiring musim panas yang memicu penggunaan AC yang lebih besar. Analis lainnya dari PFC Energy, Seth Kleinman menyatakan, kondisi ini masih akan berlangsung lama. "Momentum ini masih sangat kuat," katanya.Pada perdagangan di Asia sebelumnya, harga minyak juga sudah melonjak menembus rekor tertingginya dengan mencatat kenaikan 38 sen dolar (0,6 persen) menjadi US$ 62,69 per barel. Dengan level ini berarti harga minyak sudah mengalami lonjakan sebesar 44 persen sepanjang tahun ini.
(qom/)











































