Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 30 Agu 2018 19:17 WIB

Kejayaan Laut di 73 Tahun Kemerdekaan RI

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Tak terasa, 73 tahun sudah bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan. Waktu yang cukup panjang bagi sebuah bangsa untuk bangkit dari keterpurukan panjang di bawah penjajahan.

Berbagai cara pun dilakukan untuk merayakan hari kemerdekaan yang dicapai dengan perjuangan tersebut. Salah satunya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang memperingatinya dengan aksi 'Menghadap ke Laut'.

'Menghadap ke Laut' yang jadi jargon aksi tersebut terdengar sederhana dengan susunan kata yang juga sederhana. Nyatanya, kata-kata dalam bahasa sederhana yang dibuat Susi dalam seremonial tersebut punya makna yang sangat dalam.

Jargon tersebut seolah jadi penegasan atas sejumlah kebijakan Susi yang berhasil membalik sudut pandangan pengembangan ekonomi RI.

RI memang sudah terlalu lama membelakangi laut. Pembangunan fokus di darat, tercermin dari minimnya program pembangunan yang mengarah pada pengembangan kekayaan laut.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi PudjiastutiMenteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti Foto: KKP

Bahkan, RI pernah tertinggal dari negara tetangga Filipina soal produksi tuna.

Padahal negara yang terkenal dengan kota tuna General Santos tersebut hanya memiliki luas lautan 5,69 juta km persegi. Namun produksi tangkapan lautnya bisa mencapai 750 metrik ton per tahun dengan nilai ekspor mencapai US$ 2 miliar atau Rp 29 triliun (kurs Rp 14.500/US$) rata-rata per tahun.

Berbanding terbalik dengan wilayah Indonesia yang paling dekat dengan negara tersebut yakni Bitung, yang ekpor ikannya hanya Rp 16 miliar per tahun. Kondisi tersebut berlangsung kurang lebih 20 tahun lamanya.

Tapi itu sudah jadi cerita masa lalu. Cerita ketika Indonesia masih memunggungi laut setidaknya hingga tahun 2015.

Kini, tak ada lagi cerita Indonesia membelakangi laut seperti dahulu. Sejak menjadi Menteri, Susi telah menancapkan tonggak sejarah membali sudut pandang RI menjadi menghadap ke laut.



Ditandai dengan mulai gencarnya wanita kelahiran 15 Januari, 53 tahun yang lalu tersebut dalam memerangi pencurian ikan. Kebijakan paling terkenal yang dilakukannya adalah melakukan penenggelaman kapal. Kapal maling pencuri ikan tentunya.

Semenjak menjabat menteri hingga kini, sedikitnya 488 kapal maling ikan sudah ditenggelamkan Susi. Rinciannya, Vietnam sebanyak 276 kapal, Filipina 90 kapal, Thailand 50 kapal, Malaysia 41 kapal, Indonesia 26 kapal, Papua Nugini 2 kapal, Cina 1 kapal, Belize 1 kapal dan tanpa negara 1 kapal.

"Kapal yang besar ditenggelamkan, kalau yang kecil di darat dimusnahkan dengan dipotong-potong dan dibakar," ujar Susi di Kementerian Kelautan dan Perikanan, akarta, Selasa (21/8/2018) lalu.

Penenggelaman tersebut dilaksanakan di 11 lokasi berbeda dengan jumlah kapal mencapai 125 buah.

"Pontianak 18 kapal, Cirebon 6 kapal, Bitung 15 kapal, Aceh 3 kapal, Tarakan 2 kapal, Belawan 7 kapal, Merauke 1 kapal, Natuna atau Ranai itu 40 kapal, Ambon 1 kapal, Batam 9 kapal, Terempa atau Anambas 23 kapal jadi total itu ada 125 kapal," tambah dia.

Nasib Laut di 73 Tahun RIFoto: Tim Infografis

Tak hanya penenggelaman, pemilik Susi Air ini juga gencar memberikan bantuan ke nelayan. Tujuannya meningkatkan daya saing nelayan RI agar tak kalah dengan nelayan negara lain dalam hal produksi perikanan tangkapnya.

Di tahun 2017 saja, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) mengalokasikan anggaran sebesar Rp 764 miliar tahun ini untuk bantuan sarana penangkapan ikan. Alokasi tersebut terdiri dari Rp 467 miliar untuk bantuan 1.068 kapal, Rp 79 miliar untuk 2.990 paket Alat Penangkapan Ikan (API) dan sisanya untuk 20 lokasi bengkel mesin, dan 400 sertifikat untuk nakhodadan kapal.

Adapun bantuan 1.065 unit kapal penangkapan ikan terdiri dari 449 unit kapal 3 GT, 498 unit kapal 5 GT, 92 unit kapal 10 GT, 3 unit kapal 20 GT, 20 unit kapal 30 GT, dan 3 unit kapal 120 GT dari baja, dan 3 unit kapal pengangkut berukuran 100 GT yang juga terbuat dari baja. Bantuan ini akan disebarkan ke 27 provinsi di 105 kabupaten dan kota.

Untuk melengkapi kapal bantuan tersebut, dibangun pula alat penangkapan ikan sebanyak 2.990 paket dengan total anggaran Rp 79 miliar. Bantuan alat penangkapan ikan itu terdiri dari gillnet dengan 59 spesifikasi, trammelnet 2 spesifikasi, rawai hanyut 3 spesifikasi, rawai dasar 3 spesifikasi, bubu 5 spesifiksi, pancing tonda 1 spesifikasi, pole and line 1 spesifikasi dan handline 15 spesifikasi. Di samping bantuan alat penangkap ikan tersebut, untuk memudahkan dan memfasilitasi nelayan memperbaiki mesin dan kapalnya disiapkan pula bengkel di 20 Pelabuhan.

"Kita ingin nilai-nilai kedaulatan ini mewarnai hari kemerdekaan kita"Kementerian Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti


Dari semua upaya tersebut, apa hasilnya?

Direktorat Jendral Perikanan Tangkap KKP mencatat, stok ikan nasional hingga 2016 tercatat sebesar 12,5 juta ton. Angka ini terus mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Di 2015, stok ikan nasional tercatat sebanyak 9,93 juta ton, kemudian di 2013 sebanyak 7,31 juta ton. Selanjutnya di 2011 sebanyak 6,52 juta ton dan di 2001 sebanyak 6,41 juta ton.

Produksi perikanan tangkap di 2017 tercatat sebanyak 7.673.120 ton dengan rincian produksi laut 7.030.450 ton dan produksi perairan darat 642.670. Angka ini mengalami kenaikan dari 2016 sebanyak 6.545.852 ton dengan rincian produksi laut 6.115.469 ton dan produksi perairan darat 430.383 ton.

Nilai produksi perikanan tangkap di 2017 tercatat sebesar Rp 158 triliun dengan rincian nilai produksi laut Rp 143 triliun dan nilai produksi perairan darat Rp 15 triliun.

Angka ini mengalami kenaikan dari 2016 sebesar Rp 121 triliun dengan rincian nilai produk laut Rp 111 triliun dan nilai produk perairan darat Rp 10 triliun.



Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor perikanan tangkap di 2017 mencapai Rp 490,23 miliar atau naik dari 2016 Rp 357 miliar. Ini merupakan capaian tertinggi dalam 10 tahun terakhir sejak 2008.

"Kita ingin nilai-nilai kedaulatan ini mewarnai hari kemerdekaan kita. Dan sebagai dedikasi bahwa laut bukanlah sampah dan bersama-sama satuan tugas dan bahwa penegakan hukum ini sangat penting untuk kita," kata Susi.


Saksikan juga video 'Pesan Menteri Susi di CFD, Jaga Laut dan Harus Makan Ikan':

[Gambas:Video 20detik]

(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed