ADB: Ekonomi Asia Timur 'Hanya' Tumbuh 6,8 Persen
Selasa, 09 Agu 2005 18:24 WIB
Jakarta -
Tingginya harga minyak dunia ditambah melambatnya pertumbuhan ekspor diprediksi memangkas pertumbuhan ekonomi Asia Timur menjadi 6,8 persen pada tahun 2005. Padahal pada tahun lalu, kawasan ini mencatat tingkat pertumbuhan yang cukup mengesankan di level 7,6 persen. Melambatnya pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) Asia Timur diprediksi terus berlanjut hingga tahun 2006, dengan pertumbuhan hanya 6,6 persen.Demikian laporan Monitor Ekonomi Asia yang dikeluarkan Bank Pembangunan Asia (ADB) seperti dikutip dari Reuters, Selasa (9/8/2005).Prediksi pertumbuhan Asia Timur ini didasarkan pada meningkatnya risiko seiring kenaikan harga minyak dunia dan juga ketidakseimbangan penyesuaian dari neraca pembayaran global. "Dengan lingkungan ekonomi eksternal yang agak sedikit kehilangan keuntungan dan harga minyak yang mencapai rekor tertinggi, Asia Timur diperkirakan akan mengalami perlambatan yang moderat pada tahun ini," demikian pernyataan ADB. Japan, Taiwan dan Hong Kong tidak termasuk ke dalam laporan tersebut. Laporan itu hanya mencakup Cina, Korea Selatan, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, Indonesia, Vietnam, Myanmar, Laos, Brunei dan Kamboja.ADB mencatat, di luar Cina, negara-negara Asia Timur akan mencatat rata-rata pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) 4,4 persen pada tahun ini, atau 1 persen poin lebih rendah dari pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 5,5 persen."Perlambatan pertumbuhan PDB Asia Timur secara bertahap itu telah dimulai sejak pertengahan 2004 dan terus berlanjut pada tahun ini," kata ADB.Khusus untuk Cina, ADB memperkirakan perekonomiannya akan tumbuh 9,4 persen selama kuartal I-2005, dan meningkat menjadi 9,5 persen pada kuartal II-2005.
(qom/)










































