Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 04 Sep 2018 12:39 WIB

Singgung Rupiah Keok Lawan Dolar AS, DPR Minta Pemerintah Jujur

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Trio Hamdani/detikFinance Foto: Trio Hamdani/detikFinance
Jakarta - DPR hari ini menggelar sidang paripurna tentang RAPBN 2019 dan nota keuangan. Sidang kali ini tentang tanggapan pemerintah terhadap pemandangan umum fraksi atas RUU APBN 2019 dan nota keuangan.

Hadir dalam sidang paripurna ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewakili pemerintah. Sebelum Sri Mulyani menyampaikan pandangan pemerintah, sejumlah anggota DPR melakukan interupsi.


Mereka mengkritik pemerintah soal nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang terus menguat terhadap rupiah.

Bambang Haryo, anggota Fraksi Partai Gerindra mengatakan terkait nilai tukar rupiah yang sudah hampir mendekati Rp 15.000/US$ selalu dianggap kondisi yang tak perlu dikhawatirkan.

"Perlu diketahui kondisi ini tentu sangat memprihatinkan karena begitu banyak komoditas pangan itu impor mulai dari kedelai hampir 100 persen, jagung impor, gula impor, susu 80 persen impor, ini menurut saya sudah terlalu memprihatinkan. Pak presiden selalu katakan kurs dolar juga terjadi menguat di beberapa negara, memang benar ada pengaruh di beberapa negara tapi kondisi yg dialami Indonesia terparah," kata Bambang di dalam sidang Paripurna di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (4/9/2018).


Bambang meminta Sri Mulyani menyampaikan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera bertindak karena kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengkhawatirkan.

"Tolong bu menteri sampaikan ke presiden ini sangat mengkhawatirkan, di masyarakat sangat memberatkan. Tolong sampaikan di kementerian terkait impor pangan mulai dikurangi, bukan malah ditambah. Saya mohon bu menteri bisa buka internet nya apa bener yg saya katakan, semoga bisa perbaiki kinerja keuangan kita," tutur Bambang.


Michael Wattimena dari Fraksi Partai Demokrat meminta pemerintah jujur menjelaskan kondisi ekonomi saat ini. Selain itu, pemerintah perlu segera bertindak agar kondisi saat ini tak berlanjut menjadi krisis seperti di 1998.

Dia juga menyarankan pemerintah jangan cuma menyalahkan kondisi perekonomian global seperti perang dagang China dan AS atau krisis ekonomi di Turki sebagai pemicu pelemahan rupiah, tetapi lebih melihat kondisi fundamental ekonomi di Indonesia saat ini.

"Kondisi ini kami ingin ibu menjelaskan ke kami secara jujur dan setulusnya bagaimana kondisi fundamental ekonomi kita, jujur kami tidak mau lagi berada pada suasana kelam 1998. Saat ibu jelaskan kami mohon jangan sekali-kali disalahkan ada permasalahan AS dan China. Kami minta ibu jelaskan fondasi ekonomi kita saat ini," tutur Michael.


Terakhir, Haerudin dari fraksi PAN mengingatkan pemerintah hati-hati menambah utang, agar tidak melampaui batas kemampuan untuk melunasi.

"Kami ingin ingatkan bahayanya beban utang terutama hari ini dalam paripurna ini akan dengar tanggapan pemerintah. kami ingatkan sejak semula bu menteri kalau utang sudah tak terkendali punya risiko besar kepada negara, mohon hati hati tiap tambah utang jangan sampai utang melebih ambang batas kemampuan," tutur Haerudin.


Saksikan juga video 'BBM Naik, Rupiah Melemah, DPR: Akan Ada Multiplayer Effect':

[Gambas:Video 20detik]

Singgung Rupiah Keok Lawan Dolar AS, DPR Minta Pemerintah Jujur
(hns/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed