Kala Filosofi Jawa Diadaptasi untuk Atur Uang Negara

Kala Filosofi Jawa Diadaptasi untuk Atur Uang Negara

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Selasa, 04 Sep 2018 12:17 WIB
Wamenkeu Mardiasmo (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo mengaplikasikan manajemen keuangan Jawa dalam sistem keuangan negara. Pria asal Solo Jawa Tengah ini menjelaskan mengatur keuangan negara hanya perlu dilakukan dengan skema sederhana yaitu dengan mengaplikasikan filosofi 'gemi, nastiti, ati-ati.

"Konsep value for money, value for public money dalam bahasa Jawa. Sederhanannya mengalokasikan gaji suami. Istri bersifat gemi, setiti, ati ati. Gemi artinya hemat, nastiti artinya teliti dan ati-ati yang berarti hati-hati. Gemi nggak bisa lepas dari nastiti," kata dia kata dia saat menghadiri acara Festival Literasi Perpustakaan Kementerian Keuangan Tahun 2018, Aula Djuanda, Gedung Djuanda I Lantai Mezzanine, Jakarta Pusat (4/9/2018).



Ia menjelaskan dengan mangaplikasikan filosofi ini, maka keadilan sosial yang tertuang dalam pancasila bisa terwujud.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan frame work gemi nastiti ati-ati itu untuk mengelola keuangan rakyat dan mindset tersebut kita bisa mengalokasikan public money maka pancasila akan terwujud yaitu, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," kata dia

Ia sempat memberikan contoh saat istrinya bisa megelola keuangan secara cerdas ketika penghasilan Mardiasmo ketika masih menjadi dosen masih Rp 18.000/ bulan.

"Istri mana yg mau bisa terima gaji Rp 18.000 per bulan jadi dosen. Mau menabung. Gemi ga bisa lepas dari nastiti. Berapapun gaji suami disyukuri. Jangan besar pasak daripada tiang. Kebutuhan yang pokok apa, dengan pengeluaran kecil itu membuat kita bijak," jelas dia.



Ia menjelaskan dasar sederhana yang ia lakukan untuk mengalokasikan anggaran yang ekonomis juga diadaptasi dari situasi yang sederhana seperti apa yang istrinya lakukan. Filosofi jawa kata dia sangat cocok untuk diaplikasikan dalam sistem keuangan negara agar pengeluaran bisa ekonomis, efisien dan efektif.

Ia menjelaskan, selain tiga faktir tersebut, Mardiasmo menambahkan faktor lain yaitu equality dan equity.

"Saya tambahkan karena equal itu maksudnya jangan sampai ada kesenjangan," kata dia. (dna/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads