Follow detikFinance
Jumat, 07 Sep 2018 15:06 WIB

Mobil RI Masuk Australia Bisa Bebas Bea Masuk

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Indonesia dan Australia saat ini tengah proses untuk meneken kontrak kerjasama dalam perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IA-CEPA. Dalam perjanjian tersebut kedua negara ini setuju untuk membebaskan bea masuk sederet impor antar dua negara.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Imam Pambagyo menjelaskan, barang Indonesia yang dikirim ke Australia dengan bea masuk 0%, seperti produk otomotif seperti mobil, sepeda motor.

"Ekspor mobil hybrid dan listrik berupa ketentuan asal barang berupa: change in tariff heading (CTH) or qualifying value content (QVC) 35% or built in Indonesia from a Complete Knock Down kit for Electric & Hybrid Car ini juga gratis bea," ujar dia dalam diskusi di Kementerian Perdagangan, Jumat (7/9/2018).



Selain itu juga tekstil dan produk tekstil dengan preferensi tarif bea masuk 0% dari yang sebelumnya 5%, sehingga dapat berkompetisi kembali dengan Malaysia, Thailand dan Vietnam yang sebelumnya sudah mendapatkan pembebasan tarif.

Ia juga menjelaskan, untuk jenis herbisida dan pestisida preferensi tarif bea masuk 0% dari yang sebelumnya 5%, sehingga dapat berkompetisi kembali dengan Malaysia, dan China yang sebelumnya sudah mendapatkan pembebasan tarif.

Sementara itu ada pula produk Lainnya Peralatan elektronik, permesinan, karet dan turunannya seperti ban, kayu dan furniture, kopi, coklat, dan kertas. Produk-produk ini sudah mendapatkan preferensi tarif bea masuk 0% dari Australia, namun dapat lebih ditingkatkan ekspornya melalui Konsep 'Economic Powerhouse'.

"IA CEPA akan menciptakan peluang investasi baru dan iklim investasi yang lebih kondusif. Hal ini penting untuk meningkatkan jumlah FDI Australia di Indonesia, dan sebaliknya," kata dia.

Sejak awal tahun 2018 langkah untuk pembebasan bea masuk dari Australia ini sudah dilakukan pendekatan. Sejak Januari hingga Mei 2018 pihak Indonesia dan Australia mengintensifkan penelesaian IA CEPA di tingkat ketua kelompok perunding. Kemudian di Juli 2018 perundingan dilakukan kembali, serta di awal Agustus 2018 langkah ini dilakukan finalisasi penyelesaian di tingkat ketua kelompok perunding. Sampai pada akhirnya di pada Novemer 2018 akan ada penandatanganan perjanjian bilateral.

"November nanti akan ada tanda tangan (soal perjanjian ini)," jelas dia.



Namun, meski sudah dilakukan penandatanganan, barang-barang tersebut tidak akan langsung digratiskan bea masuknya. Setelah proses penandatanganan kemudian proses selanjutnya yaitu ada proses ratifikasi yang biasanya proses tersebut akan membutuhkan waktu sekitar enam bulan sebelum kebijakan tersebut bisa direalisasikan. Meski diprediksi waktu pengkajian enam bulan, hal tersebut masih tergantung pengkajian dan butuh persetujuan dari anggota DPR..

Sebagai informasi, beberapa waktu lalu Toyota sedang mempelajari pasar Australia untuk bisa memasarkan kendaraannya di sana. Hal itu sejalan dengan kerjasama antara Indonesia dengan Australia dalam skema Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IACEPA).

Di Australia kini tidak ada manufaktur kendaraan di sana. Pabrikan berbondong menghentikan produksi karena biaya produksi yang sangat mahal di Australia. Mereka memilih menjadi distributor saja, kendaraan diimpor dari negara lain. Produsen seperti GM, Toyota, dan Ford sudah menghentikan produksi di Australia, sehingga tidak ada lagi pabrikan yang memproduksi mobil di benua Kanguru itu. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed