Harga Minyak Menggila ke US$ 65

Harga Minyak Menggila ke US$ 65

- detikFinance
Kamis, 11 Agu 2005 10:45 WIB
Jakarta - Harga minyak dunia semakin menggila dan tak terkendali hingga mencapai level US$ 65 per barel. Level puncak ini kembali dicatat setelah keluarnya data yang menunjukkan anjloknya cadangan BBM AS, kerusakan sejumlah kilang, dan memanasnya suhu politik di Timur Tengah.Di New York, harga minyak jenis light untuk kontrak September pada Rabu, 10 Agustus 2005, sempat mencapai level US$ 65 per dolar sebelum akhirnya ditutup naik US$ 1,83 ke level US$ 64,9 per barel.Sementara di London, minyak jenis Brent untuk kontrak September juga melonjak hingga US$ 2,12 ke level US$ 64,10 per barel.Lonjakan harga minyak ini terjadi setelah Department of Energy (DoE) AS melaporkan bahwa cadangan BBM, terutama bensin, mengalami penurunan. Namun cadangan minyak mentah saat laporan DoE dibuat menunjukkan kenaikan.Kecemasan para pialang muncul seiring pecahnya rekor penjualan otomotif di AS yang akan memicu lonjakan permintaan dari negara konsumen minyak terbesar dunia ini."Pasar terpengaruh oleh faktor fundamental dan spekulatif. Namun faktor fundamental pengaruhnya lebih besar. Saat ini kami memiliki pertumbuhan AS yang kuat, permintaan energi yang sangat kuat, tingginya penjualan otomotif, dan juga SUV (special utility vehicle)," kata ekonom dari Wachovia, Jason Schenker, seperti dilansir AFP, Kamis (11/8/2005).Kerusakan sejumlah kilang minyak AS juga turut mendorong harga minyak ke posisi puncaknya. Perusahaan minyak Inggris BP mengatakan bahwa pihaknya telah menutup unit gas-oil hydro-treating miliknya di Texas City, karena adanya kerusakan.Penutupan ini merupakan rangkaian dari kerusakan fasilitas kilang di Texas City, yang merupakan kilang terbesar milik BP. Jika beroperasi secara penuh, kilang BP di Texas City memroses minyak hingga 460.000 barel per hari.Penutupan kilang juga dilakukan oleh perusahaan minyak dari Prancis Total, yang menutup ladang minyaknya di Nigeria terkait kerusuhan penduduk lokal sekitarnya. Situasi yang tidak menguntungkan itu masih ditambah dengan memanasnya suhu di Timur Tengah. Kekhawatiran ancaman teroris kini tengah mengancam Arab Saudi yang merupakan negara penghasil minyak terbesar dunia. Tiga negara, yakni AS, Inggris, dan Australia sudah memperingatkan soal kemungkinan serangan teroris tersebut. Bahkan AS sempat menutup kantor kedubesnya di Arab Saudi terkait hal tersebut.Di Iran yang merupakan negara penghasil minyak terbesar kedua OPEC juga tengah memanas situasinya seiring percobaan nuklir yang dilakukan Iran. Aktivitas nuklir yang dilakukan Iran itu membuat AS dan Eropa berang."Ada banyak keprihatinan geopolitik. Namun sepertinya tidak ada dampak dari tingginya harga minyak terhadap permintaan bensin dari AS. Orang-orang terus mengeluhkan tingginya harga bensin, namun sama sekali tidak terdorong untuk mengurangi pemakaiannya," kata Seth Kleinman dari PFC Energy.Setelah harga minyak memuncak ke level US$ 64 per barel pada Senin, 8 Agustus lalu, OPEC akhirnya memutuskan untuk 'membanjiri' pasar dengan menambah kuota produksinya sebanyak 300 ribu barel. Namun tampaknya hal itu tidak berhasil meredam lonjakan harga minyak. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads