Follow detikFinance
Minggu, 09 Sep 2018 17:59 WIB

Bisnis & Komunitas

Bisnis Jual Beli Kaus Musik Lusuh Sampai Bisa Punya Rumah

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Kaus Band (dok. Utek) Foto: Kaus Band (dok. Utek)
Jakarta - Andi Tri Susilo kini hidup damai sejahtera dengan keluarga kecilnya di sebuah rumah di Cikoneng, Bandung. Meski tak begitu besar, namun dia bersyukur bisa memiliki rumah.

Satu hal yang membuat rumah itu sangat berkesan baginya. Rumah itu dia dapat berkat hobinya mengoleksi kaus band bekas. Sulit dipercaya memang, dia saja tak menyangka.

Andi sendiri sudah menjadi kolektor kaus band khusus britpop Inggris sejak 1998. Koleksinya kausnya sudah mencapai 500 buah yang sebagian besar juga berputar dengan melakukan jual beli.


Kaus band yang dia kumpulkan memang kaus bekas yang bahkan usianya sudah puluhan tahun. Rata-rata kaus band yang dikumpulkanya diproduksi saat tahun 1980an saat musik aliran musik britpop berjaya.

Suatu ketika, sekitar 2,5 tahun yang lalu, ada seorang kolektor dari Jakarta yang berminat untuk membeli koleksi kausnya. Dia rela datangi rumah kontrakan Andi untuk melihat koleksinya langsung.

"Dulu itu saya masih ngontrak di Cileunyi, samping rumah orangtua saya. Saya bilang sok main ke sini," kenangnya.

Andi berpikir dia seperti pembeli kaus kebanyakan yang hanya membeli 1 atau dua buah kaus saat datang ke rumahnya. Ketika mengetuk pintu, Andi sedikit kaget pembelinya itu membawa tas carrier besar dalam kondisi kosong.

Dalam waktu singkat tas carrier kosong itu sudah terisi penuh kaus band, totalnya sekitar 30 kaus. Mereka berdua pun sepakat untuk bertransaksi di harga Rp 25 juta. Jika dihitung rata-rata berarti satu kausnya dihargai Rp 800 ribuan.

"Saya pikir, ya sudah dia hanya beli 30 kaus itu saja, ternyata tidak," tuturnya.

Pembeli yang bernama Fuad Harahap itu penasaran dengan koleksi kaus band Andi. Diajaklah dia untuk masuk ke ruangan yang berisi ratusan kaus koleksinya yang dia simpan rapih di dalam box.

Ternyata pembeli itu kembali tertarik dengan koleksinya. Andi pun kaget ketika dia ingin membeli 1 box yang berisi 58 kaus. Lantaran sedang butuh uang, Andi rela menjualnya dengan mematok harga Rp 60 juta. Tawar menawar pun terjadi.

"Dia tawar Rp 40 juta. Saya bilang enggak bisa, karena kaus-kaus itu bisa laku Rp 1,5-2 juta. Akhirnya sepakat Rp 55 juta," tambahnya.



Detik itu si pembeli langsung transfer uang itu menggunakan mobile banking. Itu artinya dalam sehari saat itu dia mendapatkan uang sekitar Rp 80 juta. Uang itu kemudian dimanfaatkan untuk membayar DP rumah.

Mendengar cerita itu tentu menggiurkan. Apa lagi Andi rata-rata membeli kaus-kaus itu sekitar Rp 300 ribu. Jika dihitung sudah berapa ratus persen peningkatan nilai dari kaus-kaus bekas itu.

Tapi rasanya tidak semua orang bisa mengalaminya. Andi bisa dibilang beruntung bisa bertemu dengan kolektor kelas kakap seperti Fuad.

Kolektor kaus lainnya, Afrian Zulkifli misalnya, dia justru bercerita tentang pengalaman pahit. Dia beberapa kali tertipu saat membeli kaus band yang dia idamkan.

"Saya pernah beberapa kali dapat kaus palsu. Kalau belinya di Indonesia bisa dikembalikan, tapi saya beli di eBay, kalau mau retur ada regulasinya," ucapnya.

Dia juga pernah membeli kaus di eBay, tapi ternyata kaus itu tak kunjung sampai. Sang pengirim pun tak mau ganti rugi karena merasa sudah mengirimnya. Untungnya kebijakan eBay bisa memberikan ganti rugi hingga 50% dari harga transaksi.

Afrian juga mengaku pernah tertipu dengan penjual lokal. Dia membeli kaus yang tahun produknya 1990an. Ketika sampai di tangannya, ternyata kondisi sablonannya baru, atau sudah dimodifikasi.

Meskipun Afrian juga beberapa kali mendapatkan untung dengan menjual koleksinya di harga yang jauh lebih tinggi saat dia beli, namun cerita itu menunjukkan bahwa mengkoleksi kaus juga ada tantangannya.

Untuk menjadi kolektor ini juga tidak mudah. Hanya mereka yang memang benar-benar suka dengan hobi ini dan mencintai musik ini yang bisa melakukannya.

Butuh upaya besar untuk merawat kaus-kaus bekas ini agar tetap awet. Apalagi umur dari kaus-kaus yang mereka koleksi bisa mencapai puluhan tahun.

Utek, kolektor kaus band lainnya menjelaskan betapa ribetnya merawat kaus-kaus koleksinya. Pertama, untuk menghindari jamur, kaus harus sering dikeluarkan dari lemari dan kemudian di jemur, itu pun tidak boleh langsung terkena sinar matahari.

"Saya punya kaus yang produksinya tahun 1983 tapi kondisinya masih bagus," katanya.


Untuk mencuci dia tak pernah menggunakan deterjen tapi menggunakan sabun pencuci piring. Sebab menurutnya kandungan yang ada di deterjen sangat jahat dan bisa merusak warna.

Seluruh kausnya juga tidak pernah dicuci menggunakan mesin cuci, kausnya juga tak pernah di setrika. Jika itu dilakukan maka kualitas sablon dari kausnya akan rusak.

Untuk pemakaian, Utek selalu menggunakan kaus dalam. Itu menghindari agas kaus tidak langsung terkena keringat. Jika setelah pakai masih bersih, maka cukup diangi-angini dengan kipas angin.

"Sulit memang, tapi senang saja kalau dinikmati," akunya.



Saksikan juga video 'Bisnis Helm Retro, Keisengan yang Mendatangkan Peluang':

[Gambas:Video 20detik]

(das/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed