Ketahanan Fiskal Baik
RI Tak Bakal Bangkrut
Kamis, 11 Agu 2005 16:06 WIB
Jakarta - Meski keuangannya babak belur dihajar tingginya harga minyak, namun ketahanan fiskal Indonesia dinilai masih cukup baik. "Jadi jangan khawatir Indonesia akan bangkrut," kata ekonom UGM Bagus Santoso.Ia menyampaikan hal itu saat memaparkan outlook ekonomi di Plasa Mandiri, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (11/8/2005).Ketahanan fiskal yang bagus itu, lanjut Bagus, dikarenakan pemerintah Indonesia masih melakukan kehati-hatian fiskal. APBN juga diwarnai konservatisme fiskal yang fokus pada kehati-hatian, defisit dan pembayaran utang, sehingga peranan APBN sebagai stimulus ekonomi tidak besar.Menurut Bagus, yang harus dipikirkan adalah tingkat pertumbuhan ekonomi yang rendah dan tingginya pengangguran yang menjadi masalah serius.Untuk mengatasi masalah serius ini, tambah Bagus, pemerintah perlu melakukan kebijakan yang lebih ekspansif. "Saya sarankan perlu dilakukan cara-cara baru untuk meningkatkan penerimaan pajak, terutama PPh, sebagai penyumbang terbesar APBN yang potensinya masih besar," katanya.Alternatif lainnya adalah dengan mengenakan pajak maksimum 35 persen untuk transaksi formal dan harus mudah direstitusi apabila yang bersangkutan memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP). Hal-hal tersebut bisa meningkatkan penerimaan negara, tax ratio, dan menambah pemilik NPWP yang kini baru mencapai 2 juta.Pemerintah juga mengefisienkan pengeluaran negara dengan bertindak lebih galak terhadap koruptor.Rasio utang pemerintah atas tahun dasar PDB 2000 dalam APBN 2004 sebesar 52,20 persen terhadap PDB, dan untuk APBN 2005 sebesar 47 persen. Menurut Bagus, rasio utang luar negeri yang ideal untuk menghindari krisis utang luar negeri sebesar 15-20 persen.Ditambahkannya, hasil simulasi menunjukkan rasio tersebut tidak dapat dicapai meski ditetapkan rasio keseimbangan primer terhadap rasio total utang luar negeri sebesar 2 persen.Untuk itu, tambah Bagus, Indonesia perlu mengubah utang luar negerinya menjadi utang dalam negeri untuk mencapai angka 15-20 persen, agar struktur utang Indonesia merupakan utang yang berkesinambungan.
(qom/)










































