Defisit Bisa Capai 1,5-2% PDB

Wapres Jusuf Kalla:

Defisit Bisa Capai 1,5-2% PDB

- detikFinance
Jumat, 12 Agu 2005 15:05 WIB
Jakarta - Harga minyak dunia yang membumbung hingga level US$ 66 per barel bakal membuat defisit anggaran kian menganga lebar hingga 1,5-2 persen PDB. Sementara subsidi diperkirakan mencapai Rp 150 triliun.Demikian disampaikan Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (12/8/2005).Wapres mengakui, tingginya harga minyak memang membuat penerimaan negara dari migas bakal meningkat. Namun pemerintah juga harus membayar mahal dari BBM yang harus diimpor. "Secara subsidi bisa Rp 150 triliun dengan itu. Dan pada akhirnya kalau terlalu tinggi, maka defisitnya bisa bisa mencapai 1,5-2 persen dari PDB," ujar Kalla.Sebelumnya, Menkeu Jusuf Anwar mengatakan, meski harga minyak melonjak tinggi, pemerintah akan mati-matian berjuang mempertahankan defisit APBN 2005 sebesar 1 persen PDB atau sekitar Rp 26 triliun.Mengenai kenaikan harga BBM, Kalla mengatakan, angkanya tergantung dari posisi terakhir harga minyak, kurs rupiah dan juga angka subsidi yang disetujui DPR. "Jadi tiga komponen itu yang menentukan (kenaikan)," tegas Kalla.Di tempat terpisah, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie mengatakan, pemerintah tidak akan mengubah nilai subsidi BBM yang dalam APBN-P 2005, meskipun harga minyak di pasar dunia terus naik. "Penambahan subsidi itu akan melanggar ketentuan dalam APBN," tegasnya.Aburizal juga mengakui, kesenjangan pembiayaan akibat tingginya harga minyak dunia diperkirakan mencapai lebih dari Rp 20 triliun. "Kalau di dunia usaha, kesenjangan pembiayaan ini disebut cashflow shortage. Ini kalau dibiarkan akan membuat kita mencari pinjaman yang lebih banyak," kata Aburizal. Pemerintah juga akan tetap mempertahankan konsumsi BBM pada tahun 2005 sebesar 59,6 juta kiloliter. "Itu tidak akan kita tambah. Kita akan mencoba mempertahankan," ujar Aburizal.Mengenai rencana kenaikan harga BBM, Aburizal mengatakan, pemerintah kemungkinan akan melakukannya secara bertahap. "Yang sudah dilakukan sekarang kan sudah dinaikkan bertahap untuk industri dulu, kemudian UKM baru setelah itu untuk nelayan," tambahnya.Ical menekankan perlunya penggunaan energi alternatif seperti gas tenaga surya dan biodiesel. "Harga minyak biodisel harganya Rp 3.000 per liter. Dalam jangka waktu yang singkat, kita akan tekankan penggunaan energi alternatif," katanya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads