Follow detikFinance
Jumat, 14 Sep 2018 17:31 WIB

Begini Cara Mendag Genjot Ekspor RI dan Stabilkan Rupiah

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengakui defisitnya neraca dagang Indonesia menjadi salah satu penyebab keoknya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Upaya mengatasinya yaitu menggenjot ekspor dan menahan laju impor. Bicara soal meningkatkan ekspor, kepada detikFinance, Enggar mengaku sudah punya caranya.

"Sebagai amanat dari Presiden Jokowi kepada saya adalah buka pasar baru dan buka komoditas baru. Dont put all your eggs in one basket (jangan letakkan semua telur dalam satu keranjang," sebut pria kelahiran Cirebon ini saat blak-blakan di kantor detikcom, Jakarta Selatan Kamis (13/9/2018).



Untuk membuka pasar ekspor baru, Mendag tengah rajin 'bergerilya' ke sejumlah negara tujuan ekspor baru yang selama ini belum pernah menjalin kerja sama dagang secara langsung dengan Indonesia. Negara tujuan ekspor baru tersebut diistilahkan dengan naman negara tujuan ekspor non tradisional.

"Eropa, China, Jepang itu pasar tradisional. Pasar non tradisional yang baru itu Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, dan sebagainya. Nah ini yang akan kita lakukan (membuka pasar ekspor baru)," jelas Enggar.

Langkah ini dilakukan lantaran sudah terlalu lama RI tidak menjalin kerja sama baru di sektor perdagangan.

"Sepuluh tahun sudah perjalanan Indonesia ini sudah tidak ada lagi perjanjian perdagangan," ulasnya.


Begini Cara Mendag Genjot Ekspor RI dan Stabilkan RupiahFoto: Muhammad Ridho

Tanpa adanya perjanjian dagang, barang-barang Indoesi yang masuk ke satu negara akan dikenakan bea masuk yang cukup besar sehingga kalah bersaing dengan produk serupa dari negara pesaing yang akhirnya membuat kinerja ekspor RI tak terlalu moncer.

Untuk itu lah diperlukan perjanjian kerja sama dagang dengan negara-negara tujuan ekspor baru.

"Baru sekarang. Saya dengan Chili sudah sembilan tahun berlalu. Kemudian yang sekarang kita dengan Australia nsyaallah kita tanda tangani November. Kemudian RCEP, dari total 50% dari total populasi di dunia ada dalam regional itu akan kita selesaikan tahun depan. Kemudian Tunisia, Maroko Mozambik juga kita lakukan perjanjian perdagangan dengan PTA. Kita bisa dapatkan zero tarif. Nah ini langkah yang harus kita lakukan," papar Enggar.



Dengan cara ini diharapkan produk-produk unggulan RI dari mulai manggis hingga tuna, bisa menjangkau pasar ekspor yang lebih luas.

Sehingga volume dan nilai ekpr RI bisa meningkat demi kendorong surplus neraca dagang dengan harapan bisa kembali mendongkrak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed