Follow detikFinance
Minggu, 16 Sep 2018 08:29 WIB

Bisnis dan Komunitas

Ransel Alpina dan Kenangan Anak Generasi 90-an

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance
Jakarta - "Emangnya Alpina masih ada?"

"Bukannya dia udah kalah sama merek lain?"

"Ah bajakan kali itu?"

Kalimat-kalimat di atas merupakan reaksi yang terlontar dari orang-orang yang ditanya mengenai eksistensi tas ransel asal kota Bandung bermerek Alpina saat ini. Banyak yang tak tahu bahwa Alpina sampai sekarang masih ada dan masih melayani pembeli di toko konvensional maupun lapak online.

Saya kembali bertanya soal Alpina kepada teman. Pertanyaannya, 'bagaimana perasaan dia dulu ketika memiliki ransel Alpina?' Jawabannya hampir tak ada bedanya. Pemakai Alpina saat masa kejayaannya memiliki pengalaman yang menyenangkan dan berkesan.

Tas Alpina memang memiliki model yang simpel dan sederhana. Hanya bentuk kotak dengan dua resleting bagian atas dan bagian depan yang ditempeli logo Alpina dengan dasar warna hitam.

Numan Areban pengguna tas Alpina dulu kala, semringah saat ditanya mengenai tas asal Bandung tersebut. Sambil memeras ingatan ia bercerita, betapa keren dirinya ketika menggunakan tas berlogo gunung dengan bendera merah putih itu.

Ia masih ingat ketika menggendong tas ransel itu saat dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Tas itu pun ia gunakan hingga masuk sekolah menengah pertama (SMP).

"Iya Alpina itu tas gue zaman SD, waktu itu ngehits banget. Semua teman-teman pakai tas itu. Pokoknya lo baru keren kalau sudah pakai Alpina," kenang Numan saat ngobrol dengan detikFinance beberapa waktu lalu.

Wiraswasta ini pertama kali menggunakan ransel Alpina warna merah tua saat Kurt Cobain meninggal dunia atau tepatnya 24 tahun lalu. Desainnya yang simpel, bahan tebal dan kuat, serta harga yang terjangkau menjadi alasan Numan untuk menjadikan tas Alpina sebagai 'teman sekolah' nya.

Numan menceritakan, ada hal yang sangat menyenangkan ketika menggunakan tas Alpina. Kepala resleting tas diambil, kemudian dipasang pada seutas tali tebal berwarna hitam dan dijadikan gelang.

"Kepala resletingnya diambilin buat gelang, makin banyak kepala resleting di gelang lo makin keren deh. Biasanya kepala resleting punya anak-anak cewek yang kita ambilin, ha ha ha," canda dia.

Kenangan tentang Alpina tak hanya dimiliki Numan, Penggemar tas Alpina lainnya, Yudi Apriadi juga punya cerita tentang tas ransel berdesain simpel itu itu. Yudi pernah menggunakan tas ransel yang bisa dilipat menjadi tas pinggang.

Menurut Yudi, Alpina kala itu adalah tas yang memiliki kualitas yahud karena menggunakan bahan untuk perlengkapan outdoor. "Tasnya memang lagi ngetren, booming dan bahannya juga kuat, jadi awet. Bahkan bisa gue pakai sampai kuliah," kata Yudi.

Yudi menceritakan, ia turut menjadi korban 'keganasan' teman-temannya yang mengincar kepala resleting tasnya. "Iya tas punya gue udah gak ada kepala resletingnya, diambilin temen-temen gue. Karena lagi booming aja pake gelang yang gantungannya resleting Alpina dan tas Exports dulu," imbuh dia.

Ransel Alpina dan Kenangan Anak Generasi 90-anResleting tas Alpina/Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance


Akbar Kurniawan, juga menggunakan ransel Alpina yang merupakan warisan dari sang kakak. Menurut Akbar, Alpina adalah salah satu tas merek lokal yang awet jika dibandingkan dengan merek lokal lainnya.

Ia mendapatkan tas itu saat SD dan masih bisa digunakan sampai duduk di bangku SMP. Akbar mengaku, saat itu Alpina adalah merek yang sangat terkenal, hingga ada banyak produsen tas yang memalsukan Alpina.

"Dari kualitas bahan emang beda dari bahan tas zaman sekarang, Alpina itu awet banget dan populer sebelum ada merek lokal lain. Tapi tiba-tiba dia hilang dari pasaran," ujarnya.

Ransel Alpina memang pernah memasuki kejayaan pada era 90an. Anak sekolah mulai dari SD hingga SMA bahkan mahasiswa pernah menggunakan tas ini. Hal itu pun diamini oleh Paidjan Adriyanto (66) yang merupakan pendiri Alpina.

"Nah Alpina booming pada tahun 90an, karena kami sudah mulai masuk untuk segmen anak sekolah. Bukan hanya untuk pecinta alam saja yang waktu itu pasarnya masih kecil," kata Adriyanto saat berbincang dengan detikFinance, akhir pekan lalu.

Dia menceritakan saat booming Alpina, pria yang akrab disapa Yanto ini mampu memproduksi puluhan ribu tas setiap bulannya.

"Waktu itu saat top-top nya, saya punya 400 karyawan dan bisa produksi puluhan ribu tas setiap bulan. Saya bisa supply ke seluruh Indonesia. Permintaannya luar biasa waktu itu," tambah Yanto.

Ransel Alpina dan Kenangan Anak Generasi 90-anFoto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance


Memang, saat itu periode 1990an Alpina tak memiliki pesaing berat dan Alpina juga memiliki jaringan pemasaran yang luas di seluruh Indonesia. Namun saat krisis melanda pada era 1997-1998, produksi Alpina turun. Toko-tokonya berguguran, agar lebih efisien Alpina memang mengurangi produksi barang. Dan kini tersisa satu showroom di Bandung.

Yanto ingat, ketika anak-anak sekolah menggunakan kepala resleting tas Alpina untuk dijadikan gantungan di gelang tali pursik atau tali tenda. Menurut dia, inilah yang membuat Alpina makin tenar dibandingkan tas merek lain.

"Banyak laporan ke saya, kalau di toko-toko kepala resletingnya hilang. Dicongkelin anak-anak itu ha..ha..ha. Tapi tidak apa-apa kami ganti kepala resletingnya dengan yang baru, karena dari situ Alpina berkembang sangat luar biasa," kenang ayah 4 anak ini.

Hingga saat ini, Alpina masih seperti yang dulu. Tak banyak yang berubah, mulai dari bahan tas, bahan resleting hingga desain simpel yang menjadi ciri khas Alpina. Jadi, rasanya masih tetap sama seperti era 90an.

Menurut Yanto hal tersebut dia lakukan karena banyak pembeli yang komplain jika Alpina mengeluarkan tas dengan model baru. "Penggemar Alpina memang maunya yang simpel aja, tapi warnanya banyak. Ada yang bilang ke saya 'Pak Yanto kalau Alpina mirip yang lain saya beli di tempat lain aja, Alpina harus ada ciri khas'," tambah Yanto.

Menurut Yanto, saat ini kebanyakan pengguna Alpina adalah orang yang rindu dengan kualitas dan orang yang mendapatkan informasi turun temurun dari orang tua atau kakaknya.

"Jadi model pelanggan Alpina sampai sekarang itu ya yang sudah tahu kualitasnya, turun temurun dari kakaknya, dari orang tuanya. Makanya sampai sekarang alhamdulillah masih eksis saja Alpina," ujar Yanto.



Saksikan juga video 'Uniknya Tas Beraksen Daun':

[Gambas:Video 20detik]

(kil/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed