Harga Minyak Menembus US$ 67
Sabtu, 13 Agu 2005 12:02 WIB
Jakarta - Harga minyak mentah dunia semakin tak terbendung dan menembus level US$ 67,10 per barel. Diperkirakan harga minyak dunia dengan gampang menembus level US$ 70 per barel dalam waktu dekat.Harga minyak jenis light di New York pada Jumat 12 Agustus untuk pengantaran September sempat menyentuh level US$ 67,10 per barel. Namun akhirnya harga minyak ditutup naik 1,06 dolar ke level US$ 66,86 per barel.Harga minyak di New York ini berarti sudah melonjak 160 persen sejak Agustus 2002, saat harga minyak hanya di level US$ 25 per barel. Sementara dibandingkan Agustus 2004, harga minyak di New York melonjak 60 persen.Sementara di London, harga minyak jenis brent untuk pengantaran September sempat menyentuh level US$ 66,77 per barel, sebelum akhirnya ditutup naik 1,07 dolar di level US$ 66,45 per barel.Para pialang minyak mengatakan, lonjakan minyak masih dipicu oleh permintaan dunia yang terus bertambah dan masalah gangguan produksi di sejumlah kilang.Namun harga minyak saat ini masih lebih rendah jika dibandingkan saat revolusi Iran tahun 1979, dan jika dilakukan penyesuaian berdasarkan inflasi dengan kurs mata uang sekarang, maka harga minyak terhitung di level US$ 80 per barel.Sejumlah kilang minyak di AS tengah mengalami kerusakan di tengah permintaan yang tinggi menjelang musim panas. Kilang yang masih dalam perbaikan antara lain milik BP di Texas City.Pada Kamis 11 Agustus, kerusakan juga terjadi pada fasilitas perminyakan milik ConocoPhillips di Wood River, Illinois. Padahal kilang tersebut mampu memroduksi hingga 300 ribu barel per hari.Tekanan spekulatif juga menjadi faktor pemicu kenaikan minyak brent di Prancis, Italia dan Spanyol. Menurut analis Societe General, Deborah White, aktivitas perdagangan mulai berkurang seiring berakhirnya kontrak sejak Kamis 11 Agustus.White menambahkan, para technical strategist di bank investasinya memperkirakan harga minyak dunia akan menembus level US$ 70 per barel dalam waktu dekat."Masalahnya adalah timbulnya kerusakan kilang, padahal masalah yang lama belum bisa terselesaikan," kata White seperti dilansir AFP, Sabtu (13/8/2005).Pernyataan itu dibenarkan analis PEC Energy, Seth Kleinman, yang menyatakan harga minyak akan segera menembus level US$ 70 per barel lebih cepat dari yang diperkirakan. Namun menurutnya, para pialang juga tetap mewaspadai risiko turunnya harga minyak.
(qom/)











































