Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 23 Sep 2018 17:10 WIB

Faisal Basri Ibaratkan Impor Seperti Air Bah

Raras Prawitaningrum - detikFinance
ilustrasi/ Foto: iStock ilustrasi/ Foto: iStock
Jakarta - Beberapa pihak memberikan kritik tajam terhadap kebijakan impor yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Salah satunya adalah ekonom senior, Faisal Basri.

Menurutnya, Kemendag kebablasan dalam mengeluarkan kebijakan impor.

"Jadi seperti air bah sekarang (impornya)," kata Faisal dalam keterangan tertulis, Minggu (23/9/2018).

Faisal juga mengatakan pola impor tersebut merugikan neraca perdagangan kita. Neraca perdagangan berpengaruh pada neraca pembayaran yang pada akhirnya mempengaruhi nilai tukar rupiah.


Ia pun menilai maraknya impor dari berbagai negara ke Indonesia utamanya disebabkan kebijakan yang dibuat oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

"Sebelum batasi (komoditas impor), tertibkan dulu kelakuan Pak Enggar, yang tadinya ada rekomendasi, sekarang nggak ada rekomendasi," kritik Faisal.

Kemendag tengah menjadi sorotan terkait derasnya impor, terutama komoditas beras. Sejumlah pihak juga telah menyuarakan protes terhadap langkah Kemendag dalam menambah stok beras dalam negeri.

Bulog turut menjadi salah satu pihak yang bersuara keras terhadap kebijakan Kemendag. Direktur Utama Bulog Budi Waseso menegaskan stok beras dalam negeri dalam kondisi aman. Mengacu data Perum Bulog, jumlah Cadangan Beras Pemerintah (CBP) per 18 September 2018 mencapai 2,24 juta ton, jauh diatas batas aman stok CBP sekitar 1 hingga 1,5 juta ton.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman enggan berkomentar terhadap kebijakan impor beras yang dikeluarkan Kemendag.


Namun berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, berdasarkan Aram I 2018, perkiraan luas panen padi Januari - Agustus mencapai 12,18 juta hektare dan prediksi luas panen September - Desember mencapai 3,82 juta hektare.

Amran sempat menyampaikan optimismenya bahwa produksi beras tetap terjaga meski sedang musim kemarau. Menurutnya, publik mungkin masih terjebak paradigma lama bahwa selama ini jika musim kering atau musim kemarau tidak ada produksi karena petani tidak menanam padi.

"Sekarang ada paradigma baru dengan menggunakan teknologi baru, kita meningkatkan tanam di musim kering yang biasanya 500 ribu hektare menjadi 1 juta hektare. Naik dua kali lipat pada saat musim kering. Saya ulangi, tanaman naik dua kali lipat pada musim kering karena itu target kita," tegasnya. (ega/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed