Follow detikFinance
Senin, 24 Sep 2018 15:53 WIB

Tapal Batas

Melihat Skouw, Gerbang Ekspor-Impor RI dengan Papua Nugini

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Fadhly F Rachman Foto: Fadhly F Rachman
Skouw - Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia terus dikerjakan. Slogan itulah yang sering diucap Presiden Jokowi dalam menghadirkan pembangunan yang merata di Bumi Pertiwi, termasuk di wilayah perbatasan.

Wilayah perbatasan memang harus mencerminkan kebanggaan, nasionalisme, martabat, dan harga diri bangsa saat berhadapan dengan negara lain. Jokowi tidak mau wajah pos perbatasan terlihat kumuh seperti kandang hewan. Kalimat itu berulang kali terlontar dari mulut orang nomor 1 di Indonesia itu.

Oleh karena itu, pada era Jokowi, revitalisasi kawasan perbatasan menjadi salah satu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Era baru dimulai. Melalui Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), tujuh Pos Lintas Batas Negara (PLBN) ditata ulang.

Jokowi menerbitkan Inpres Nomor 6 Tahun 2015 tentang Percepatan Pembangunan Tujuh PLBN Terpadu dan Sarana-prasarana Penunjang di Kawasan Perbatasan. Salah satu PLBN tersebut ada di Provinsi Papua, yaitu Skouw yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.

Selama ini kawasan perbatasan identik dengan keterbelakangan. Terletak di pelosok, kawasan perbatasan ibarat pintu belakang, terisolasi, kumuh, bahkan tertinggal. Padahal, sebagai wilayah yang berbatasan dengan negara tetangga, wilayah perbatasan seharusnya menjadi pintu masuk Indonesia.

Lain dulu lain sekarang. Kini wujud-wujud perbatasan Indonesia telah diubah total. Bukan lagi jadi terpencil atau terluar, melainkan sebagai beranda terdepan Indonesia, termasuk di perbatasan Indonesia dengan Nugini. PLBN Skouw telah berdiri dengan sangat megah di sana.


Tim Tapal Batas detikcom, menjelajah wilayah perbatasan tersebut selama beberapa hari. PLBN Skouw sendiri terletak di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, dan telah diresmikan pada 9 Mei 2017 lalu. Jaraknya sekitar 60 kilometer lebih dari pusat Kota Jayapura dengan waktu tempuh sekitar 120 menit.

Di areal PLBN Skouw kini sedang dibangun ratusan kios pasar, wisma Indonesia, rumah para pegawai perbatasan lengkap dengan infrastruktur pemukiman. Desain PLBN Terpadu Skouw mengusung budaya lokal Papua. Desainnya mengadaptasi bentuk bangunan khas Rumah Tangfa dengan ornamen lokal pada sisi luar bangunan.

Rumah Tangfa merupakan rumah pesisir di daerah Skouw, yang memiliki atap dengan bentukan perisai dan dua ruang panjang tempat masyarakat berkumpul.

Melihat Skouw, Gerbang Ekspor-Impor RI dengan NuginiFoto: Suhandi Ridho/detikcom

Dari kejauhan, PLBN Skouw terlihat mencolok. Dua bangunan besar yang berdiri sejajar adalah satu-satunya gedung yang terlihat paling bagus di kawasan itu. Di sekelilingnya adalah sejumlah rumah penduduk berdinding kayu dan beratap seng.

Satu gedung adalah pintu keluar wilayah Indonesia menuju wilayah Papua Nugini, sedang satu gedung di sebelahnya adalah pintu masuk menuju wilayah Indonesia.

Lantas ada apa di PLBN Skouw? Tentu banyak jawabannya. Mulai dari aktivitas pariwisata, hingga menjadi pusat kegiatan ekonomi antar dua negara. Transaksi jual-beli barang banyak terjadi di sana. Apalagi Skouw memiliki pasar yang terbilang cukup besar.

Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano pun mengakui kegiatan transaksi jual-beli di wilayah perbatasan cukup tinggi. Dengan hadirnya pasar Skouw, pemasukan ekonomi di perbatasan bahkan bisa mencapai Rp 1 miliar per bulan.

"Satu bulan bisa menghasilkan Rp 1 miliar. Karena masyarakat dari Papua Nugini datang ke situ pada hari Kamis, Sabtu, dan Rabu ke situ, mereka tidak menawar. Berapapun harganya, mereka beli. Maka ekonomi di daerah perbatasan meningkat," kata Tomi kepada detikcom.


Orang-orang dari Papua Nugini banyak berbelanja, baik kebutuhan pokok maupun barang-barang yang untuk dijual kembali oleh mereka di negaranya. Pada pukul 09.00 WIT, biasanya sudah banyak masyarakat Papua Nugini yang berjalan kaki melintasi Indonesia. Tujuannya, hanya untuk berbelanja di pasar Skouw tadi.

Sementara, warga negara Indonesia ada juga yang berbelanja barang-barang dari Nugini. Tapi bedanya, warga asal Indonesia tak sampai melintas ke seberang negara. Mereka biasanya hanya menunggu kiriman barang dari Papua Nugini ke gerbang Perbatasan. Barang apa yang dibeli? Mulai dari kaleng, cokelat, hingga buah pinang.

Bahkan di sana juga ada pusat penukaran uang atau money changer dari PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang dilengkapi mesin anjungan tunai mandiri (ATM). BRI merupakan satu-satunya perbankan yang menyediakan pusat penukaran uang di kawasan perbatasan Indonesia tersebut.

Dengan transaksi perdagangan yang ada di sana, maka kegiatan ekspor-impor juga otomatis terjadi. Sebab, barang-barang dari kedua negara banyak hilir-mudik di wilayah perbatasan itu. Bisa dibilang, Skouw merupakan gerbang ekspor-impor utama Indonesia dengan Papua Nugini.

Simak terus cerita-cerita dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.


(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed