Subsidi BBM Membengkak Rp 25 T

Setoran Laba BUMN Dinaikkan

Subsidi BBM Membengkak Rp 25 T

- detikFinance
Senin, 15 Agu 2005 17:55 WIB
Jakarta - Pemerintah akhirnya menyesuaikan kembali asumsi harga minyaknya dalam APBN-P 2005 tahap kedua menjadi US$ 50,6 per barel. Dengan angka tersebut, maka subsidi BBM naik sekitar Rp 25 triliun yakni dari Rp 76,5 triliun menjadi Rp 101,470 triliun. Demikian nota keuangan dan RUU perubahan tentang perubahan kedua atas UU No 36 tahun 2004 tentang APBN 2005 yang diterima detikcom, Senin (15/8/2005).Subsidi non BBM juga meningkat dari Rp 20,12 triliun menjadi Rp 20,467 triliun. Defisit juga naik dari Rp 20,3 triliun menjadi Rp 26,1 triliun atau 1 persen PDB.Asumsi makro yang lain, pemerintah tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi 6 persen, inflasi 8 persen, nilai tukar rupiah Rp 9.500 per dolar, suku bunga SBI 8,25 persen dan produksi minyak 1,075 juta barel per hari. Defisit itu akan ditutup dengan peningkatan laba dari BUMN dari Rp 8,9 triliun menjadi Rp 11 triliun. Demikian pula penerimaan dari privatisasi dinaikkan dari Rp 3,5 triliun menjadi Rp 4,5 triliun. Pendapatan negara dan hibah diperkirakan meningkat Rp 25 triliun dari 491,5 triliun menjadi Rp 516,2 triliun. Penerimaan dalam negeri juga meningkat dari Rp 484,5 triliun menjadi Rp 508,9 triliun. Penerimaan itu antara lain dari penerimaan pajak dari Rp 331,8 triliun menjadi Rp 347,6 triliun. Mengenai besaran subsisi tersebut, Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR RI Hafiz Zawawi menyebutnya sebagai angka yang tidak realistis bila harga minyak mencapai US$ 70 per barel. Namun menurut Hafiz, angka subsidi Rp 101,4 triliun itu hanya untuk November. "Untuk Desember, masuk untuk tahun anggaran 2006," katanya.Ia mengharapkan pembahasan APBN-P 2005 tahap II dan RAPBN 2006 selesai sebelum DPR reses pada 1 Oktober mendatang. "Dalam minggu-minggu ini akan dibahas mengenai APBN-P 2005 dan besok pemerintah akan mengajukan RAPBN 2006," ujarnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads