"Ini terlihat dari Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) kita sebesar 7,21 persen dengan inflasi bulanan pada Agustus sekitar -0,02 persen dan inflasi setahun dari Agustus 2017-Agustus 2018 sebesar 3,26 persen," ujar Erik di Balai Kota Bandung, Kamis (27/9/2018).
Erik menyebut ada sejumlah tantangan dalam mengendalikan inflasi yakni faktor yang berkaitan dengan regulasi pemerintah seperti kenaikan BBM, biaya adminsitasi STNK dan HET beras.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara faktor inti yang berkaitan dengan kebutuhan warga cenderung memprioritaskan seperti sewa kontrakan, cukai rokok, bahan sandang dan rekreasi.
Terakhir, faktor volatile food Kota Bandung selalu tergantung pada pasokan bahan pangan dari luar daerah sehingga harga kepokmas cenderung bergejolak seperti cabe merah, bawang merah, daging ayam, telur dan daging sapi.
"Agar tak terjadi fluktuasi harga kepokmas dan inflasi tetap rendah, TPID Kota Bandung dan Bulog telah melakukan gerakan stabilitas pangan berupa bazar murah di kecamatan se-Kota Bandung mulai 5 September-2 Oktober 2018," ujarnya.
Pihaknya memastikan telah melakukan sejumlah monitoring ke sejumlah sentra industri dan pelaku usaha untuk melihat efek dari nilai tukar dolar Amerika yang terus menguat.
Sejauh ini, kata Erik, para pelaku yang kecenderungannya menggunakan bahan baku impor untuk produksi ekspor tidak terlalu terganggu. Berbeda halnya dengan pelaku usaha yang menggunakan bahan baku impor tapi tidak melakukan ekspor merasa cukup terganggu.
"Contohnya produsen tahu Cibuntu yang menggunakan bahan baku impor tapi produknya untuk lokal. Mereka sekarang masih bertahan, tapi kalau ini masih berlanjut kemungkinan akan mengurangi ukuran tahu," ucapnya.
Sementara untuk daya beli warga, Erik mengatakan harga dolar tidak berpengaruh.
"Kita lihat mal-mal masih penuh. Sabtu-minggu juga rame, macet keneh. Itu kan terlihat secara kasat mata, tidak pengaruh," katanya.
Meski begitu Erik mengimbau agar warga tidak terpengaruh dengan kondisi perekonomian saat ini.
"Mari bersama beli sesuai kebutuhan, tidak perlu panic buying seperti tahun lalu yang terjadi untuk komoditi beras dan tiga tahun lalu untuk gas 3 kg," ujar Erik. (dna/dna)











































