Peningkatan produksi kedelai tahun 2018 terjadi karena perluasan areal tanam baru (PATB) pada lahan-lahan kehutanan, lahan sawah musim kering, mengembangkan pola Bule (tumpang sari tebu-kedelai), dan lahan eks tambang. Saat ini produksi kedelai telah didukung dengan sistem produksi benih kedelai yang menjamin ketersediaan benih berkualitas (hasil panen kedelai disertifikasi menjadi benih).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mendukung swasembada kedelai pada 2020, Maman menjelaskan pihaknya telah melakukan langkah awal melalui penambahan areal tanam sejak Oktober - Desember 2017 lalu.
Maman menyampaikan bahwa data luas tanam Oktober 2017-Agustus 2018 sebesar 747.863 ha lebih besar dibandingkan luas tanam Oktober 2016-Agustus 2017 sebesar 343.469 ha sehingga terjadi surplus 403.394 ha (117,74%) atau setara dengan 583.945 ton BK.
"Berdasarkan prakiraan tersebut di atas produksi kedelai sampai dengan subround II adalah sebesar 1,09 juta ton BK, " jelas Maman.
Ia melanjutkan, seluruh tambahan luas lahan itu berasal dari 20 provinsi yang meliputi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Gorontalo.
Selain itu, Maman menjelaskan pihaknya juga tengah mengembangkan pola baru tanam tumpang sari jagung-kedelai dan padi-kedelai dengan populasi rapat. Kualitas produksi kedelai nasional lebih unggul dibanding kedelai impor karena kedelai nasional adalah nonGMO yang memiliki rasa lebih gurih, sehat, dan renyah.
Menurutnya, keunggulan kedelai nasional juga terlihat dengan adanya kenaikan kurs dolar. Karena itu harga kedelai nasional menjadi lebih murah dan kompetitif. (mul/ega)











































