Sri Mulyani menyebut generasi milenial adalah kalangan yang berorientasi pada experience atau pengalaman. Hingga tua pun mereka membutuhkan itu, sehingga harus menyiapkan dana saat pensiun.
Kemudian kemarin, Sabtu (29/9), bendahara negara itu juga meminta para milenial untuk mengurangi membaca hal-hal yang tak produktif seperti gosip. Hal itu disampaikannya dalam acara yang dihadiri oleh ratusan anak muda berusia 17-35 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kurangi Hal Tak Produktif Seperti Baca Gosip
|
Foto: Lamhot Aritonang
|
Pada kesempatan itu, Sri Mulyani meminta agar generasi muda atau milenial, untuk bisa memanfaatkan waktunya dalam mengisi hal-hal produktif.
"Gunakan waktu anda jangan jangan kebanyakan klik gosip yang bikin perasaan dan hati anda itu menjadi teraduk tidak produktif," kata Sri Mulyani.
Dia menyarankan agar para generasi milenial hanya membaca hal-hal yang positif. Dia pun memberi contoh.
"Coba kita membaca hal yang positif. (Jangan) 'Oh ada ya, kok bisa si Aldi CEO-nya Go-Pay kok keren banget tapi ngomongin ibu-ibu yang ngomongin arisan panci'. (Jangan seperti itu) Anda kan harusnya mikirin apa itu nggak terlalu nggak penting," katanya memberikan contoh.
Menurutnya, 24 jam merupakan waktu yang sempit untuk diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Waktu 24 jam akan sangat terbuang percuma bila diisi dengan hal-hal yang tidak produktif.
"Thats is exactly yang saya katakan. Waktu anda 24 jam itu sangat sedikit kalau dipakai cari hal yang sangat bermanfaat. Tapi 24 jam itu jadi sangat panjang kalau anda membaca barang-barang yang tidak penting. Banyak sekali," tuturnya.
Di Hadapan Milenial, Sri Mulyani Mengaku Ekonomi RI Baik
|
Foto: Ardan Chandra
|
Kepada milenial, Sri mulyani mengatakan bahwa secara umum kondisi ekonomi Indonesia dalam keadaan yang baik.
"Kalau kita ngomong ekonomi kan, kalau kita tanya keadaan, 'kamu bagaimana keadaannya ya? baik-baik saja'. Jadi kalau perekonomian juga banyak sekali indikatornya," kata Sri Mulyani.
Sri Mulyani menjelaskan, ada banyak indikator yang dapat menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia dalam keadaan baik. Mulai dari pertumbuhan ekonomi, hingga tingkat inflasi. Dia bilang, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, maka kemiskinan dan tingkat pengangguran bisa berkurang.
Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2018 sendiri tercatat 5,27%. Menurut Sri Mulyani, tingkat pertumbuhan ekonomi itu sudah merupakan raihan yang cukup positif.
"Pertumbuhan ekonomi kita di atas 5,27%. Itu bagus, dibandingin sama emerging market. Ada nggak pertumbuhan yang lebih tinggi? Ada. Ada Kamboja, Vietnam. Kalau G20 bagus nggak? Bagus kita nomor 3 di bawah India, China," jelasnya.
Sementara untuk tingkat inflasi, Sri Mulyani mengatakan pemerintah menjaganya di level 3,2%. Dia bilang, bahwa rendahnya tingkat inflasi tersebut juga cukup positif untuk Indonesia.
"Inflasi di 3%, tapi kok beli nasi di warteg naik dari Rp 10 ribu ke Rp 15 ribu. Padahal katanya inflasinya 3,2%, tapi orang beli warteg harganya naik 20%. Jadi selalu ada persepsi seperti itu, karena inflasi dihitung dari seluruh komoditas barang dan jasa. Jadi itu kita anggapnya naik 20%. Itu bohong nggak pemerintah? Ya nggak," kata Sri Mulyani.
"Karena inflasi itu dihitung dari seluruh barang dan jasa. Dan mungkin sekarang sudah mencapai 500, kalau di negara lain mungkin 1.000 barang dan jasa. Jadi kita katakan kenaikan rata-rata seluruh barang jasa 3,2% itu termasuk rendah," tuturnya.
Sri Mulyani Jelaskan Penyebab Tingginya Dolar AS
|
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
|
Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani mengatakan nilai tukar dolar AS yang hampir menyentuh Rp 15.000 banyak dipengaruhi kondisi global. Mulai dari kenaikan suku bunga acuan AS, kebijakan moneter The Fed, hingga pengaruh perang dagang AS.
"Jadi kalau ada yang bilang kok beli makan di warteg mahal, naik bisa Rp 1.000-2.000, ini memang ada pengaruh dari faktor global. Mulai dari kenaikan suku bunga The Fed hingga kebijakan moneternya The Fed," kata Sri Mulyani.
Bendahara negara itu juga menjelaskan, akibat berbagai kebijakan dari AS tersebut membuat peredaran mata uang dolar AS jadi terbatas. Hal ini yang terjadi di Indonesia dan menyebabkan pasokan dolar AS di dalam negeri menjadi berkurang.
Terlebih, tingkat ekspor Indonesia saat ini masih lebih rendah dibandingkan impor, atau defisit. Karenanya, permintaan terhadap barang dan jasa impor justru semakin meningmat dan membuat dolar AS menjadi lebih mahal.
"Demand lebih banyak impor barang dan jasa, maka harga dolar AS menjadi mahal. Hukum supply-demand," ujarnya.
Lebih lanjut Sri Mulyani menjelaskan, selain lewat ekspor, pasokan dolar AS di Indonesia bisa ditambah dengan berbagai cara. Salah satunya dengan suntikan dana asing kepada perusahaan unicorn Indonesia, contohnya Go-Jek.
"Jadi kalau misalnya Jack Ma masukkan US$ 1,5 miliar ke Go-Jek, lalu ada yang masukkan lagi misalnya US$ 1,5 miliar. Itu akan menambah suplai dolar AS kita," tuturnya.











































