Saat melakukan kunjungan kerja meninjau lokasi pengembangan bawang putih di ketinggian sekitar 650 mdpl di Banyuwangi, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikuktura, Prihasto Setyanto takjub melihat areal bawang putih yang subur di antara hamparan padi.
"Saya liat kuncinya di air yang melimpah, benih sesuai anjuran, dan petani yang semangat. Untuk ukuran petani pemula, hasil sementara ini sudah bagus. Hanya masih perlu ditingkatkan lagi pemeliharaannya supaya menghasilkan umbi ukuran besar," ujar Prihasto dalam keterangannya, Minggu (30/9/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan sampai telat menyiram karena sebagus apapun benihnya kalau kekurangan air, umbinya tidak akan optimal," terangnya.
Kesuksesan pengembangan lahan bawang putih di Banyuwangi tak lepas dari pogram wajib tanam bagi pelaku usaha impor bawang putih. Hal itu sesuai dengan Permentan No. 38 tahun 2017 yang menyebutkan bahwa pelaku usaha impor bawang putih wajib menanam 5% dari volume pengajuan impornya.
Masyarakat Banyuwangi juga antusias untuk mengembangkan bawang putih. Banyak inisiatif muncul dari pengembang bawang putih di sana, baik perusahaan maupun para petani.
Salah satu inisiatifnya datang dari peserta wajib tanam bawang putih yang saat ini menjadi pengelola di Lijen Banyuwangi, yakni PT Sinar Padang Sejahtera (SPS). Untuk memenuhi target produksi minimal 6 ton per hektare, perusahaan ini tak segan menyiasati produksi dengan mengembangkan irigasi pipa ukuran 3 inci yang diambil jauh di atas lereng gunung sepanjang 6 km atau lebih dari 1.500 batang paralon.
"Kami tarik dari sumber mata air di kaki Gunung Ranti lalu ditampung di embung mini di lahan paling atas. Kemudian dialirkan secara gravitasi untuk menyirami lahan bawang putih seluas 116 hektare dengan pipa-pipa lebih kecil berdiameter 2 inci," ujar pengelola lahan dari PT. SPS Fery.
Program Tanam Bawang juga membawa dampak positif bagi petani di Kabupaten Banyuwangi. Petani di sekitar lokasi menjadi terpancing untuk menanam bawang putih seperti yang terjadi di beberapa desa di Kabupaten Banyuwangi.
Sebuah kelompok tani berinisiatif mengembangkan perkebunan bawang putih setelah melihat langsung pertanaman milik importir PT SPS di Lijen.
Saat ini di Kecamatan Songgon sudah menanam bawang putih 25 hektare pada ketinggial 650 mdpl dengan bantuan dari kegiatan APBN 2018. Lokasinya antara lain di di Desa Sragi dan Desa Bayu.
Benih yang digunakan jenis Lumbu Hijau dan Lumbu Kuning. Benih tersebut dikembangkan dengan baik, rata rata tanaman sudah memasuki 65-75 hari.
"Terlebih setelah mendengar langsung pidato Pak Menteri Pertanian saat berkunjung ke sana beberapa waktu lalu. Kami jadi makin semangat ingin mencoba. Kami berharap program tanam bawang putih ini terus dilanjutkan pemerintah sampai petani benar-benar berhasil," ungkap Ketua Kelompok Tani Sawung Walik dari Desa Sragi Kecamatan Songgon Agus Agus Supriyadi.
Sementara Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Banyuwangi Mohamad Khoiri yang ikut melakukan kunjungan kerja mengatakan potensi lahan di Banyuwangi masih luas.
"Potensi lahan sementara ada sekitar 250 hektar di kaki Gunung Raung tepatnya di Kecamatan Songgon tapi kami ingin pastikan petaninya siap dan yakin dulu supaya ke depan tidak jadi masalah," kata Khoiri.
Khoiri menambahkan, kalau ada pelaku usaha yang mau masuk Banyuwangi Kementan siap bantu untuk memfasilitasi.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman pernah menyebut bahwa untuk swasembada bawang putih secara nasional dibutuhkan pengembangan lahan seluas 60 ribu hektare untuk konsumsi. Lalu dibutuhkan 18 ribu hektare lahan untuk perbenihan.
Direktorat Jenderal Hortikultura juga siap menyiapkan pendampingan bagi pelaku usaha dan petani yang serius merealisasikan program Tanam Bawang Putih baik terkait teknologi budidaya maupun konsultasi perbenihan. (ega/zul)











































