Follow detikFinance
Rabu, 03 Okt 2018 17:51 WIB

Sri Mulyani Cerita Strategi Tarik Modal Asing Masuk RI

Dana Aditiasari - detikFinance
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - Aliran modal (capital inflow) dari investor global kepada perusahaan teknologi di Indonesia akan menambah ketersedian (supply) dollar Amerika Serikat (US$). Pemerintah memotivasi generasi milenial untuk mendirikan perusahaan rintisan (start up) dengan daya tarik kuat bagi investor seperti dicontohkan Go-Jek di Indonesia.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengungkapkan hal tersebut. Menurutnya, perusahaan start up seperti Go-Jek merupakan salah satu perusahaan Unicorn dari Indonesia yang menyedot minat investor global untuk berinvestasi di Indonesia.

"Kalau tiba-tiba ada investor di sana (luar negeri) yang senang dengan Go-Jek, wah Go-Jek itu Unicorn yang keren banget ya, saya mau masuk deh, misalnya Jack Ma masukin USD 1,5 billion, lalu Google masukin USD 1,5 billion, maka dana yang masuk ke Indonesia (capital inflow) itu USD 3 billion tuh, itu suplai dollar kita naik," jelas Sri Mulyani ketika berbicara pada Millennials Festival di Cinema XXI Epicentrum Walk, Kuningan, seperti ditulis Rabu (3/10/2018).

"Jadi kalau banyak Unicorn seperti Go-Jek ini, kita akan attract more capital inflow, itu termasuk untuk investasi di tempat Unicorn seperti digital economy yang seperti Go-Jek, Tokopedia, Traveloka," terusnya.


Pada acara yang juga menghadirkan CEO GO-PAY, Aldi Haryopratomo, dan Pandu Sjahrir, Komisaris Shopee Indonesia, sebagai pembicara itu Sri Mulyani menghimbau para generasi milenial untuk mendirikan perusahaan teknologi yang menghadilkan produk atau jasa yang berdampak positif terhadap perekonomian nasional dan masyarakat.

Dengan demikian, jumlah perusahaan digital yang seperti demikian akan bertambah banyak serta menarik minat investor global untuk berinvestasi di perusahaan start up Indonesia.

"Saya meminta kalian untuk menciptakan perusahaan yang seperti itu, you attract capital inflow," ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu kepada para audiens yang mayoritas dari generasi milenial.

Secara lebih rinci Sri Mulyani menjelaskan, persediaan dan permintaan (supply and demand) terhadap USD saat ini dipengaruhi beberapa faktor.

"Demand dan supply-nya dari mana dollar itu? Pertama, dollar disuplai oleh kegiatan yang menghasilkan dollar, seperti ekspor," sebutnya.

Selain itu, Sri Mulyani juga menyarankan generasi muda meluangkan waktunya untuk meningkatkan produktivitas dan kreatifitas yang mampu menganalisa solusi dari suatu masalah.

Sri Mulyani mencontohkan Aldi Haryopratomo, CEO GO-PAY, yang berhasil menjembatani ibu-ibu di salah satu desa di Cilegon, Banten, untuk melakukan arisan digital agar bisa membeli panic.

"That is exactly yang saya katakan untuk mencari peluang dari problema. Dia (Aldi) kan keren, harusnya ketemu Menteri Keuangan, tetapi kok ngurusin ibu-ibu arisan panik," ujar Sri Mulyani.

Aldi Haryopratomo menambahkan perekonomian digital di Indonesia relatif baru dan dibidik oleh investor dan talenta internasional untuk masuk ke Indonesia. Tujuannya agar bisa mengembangkan perekonomian digital.


Grup Go-Jek, seperti dituturkan Aldi, telah melakukan perannya sebagai pelaku usaha digital dengan menciptakan perekonomian berkelanjutan bagi masyarakat di perkotaan dan pedesaan.

"Contohnya saya ke desa di Cilegon, harga panci mahal kalau lebaran kalau masaknya gantian, seminggu sebelum lebaran masak karena gantian masaknya, harga pancinya Rp 60 ribu sebulan dicicil dalam 10 bulan," Aldi mencontohkan.

Untuk mengurai permasalahan itu, Aldi mengunjungi pabrik panci untuk memproduksi panci yang dikhususkan bagi ibu-ibu tersebut seharga Rp 250 ribu per unit.

Lalu, para ibu rumah tangga itu melakukan arisan agar bisa membeli panci.

"Caranya ibu-ibu itu membeli panci dengan arisan digital, ibu-ibu di desa itu setiap Rabu mengadakan pengajian dan mereka arisan panci, setiap bulan mereka bayar Rp 50 ribu dikumpulin menjadi Rp 250 ribu, namanya Mapan bagian dari Grup Go-Jek dan arisannya dibayar menggunakan GO-PAY," ulasnya.


Itu, disebutkan Aldi, menjadi salah satu peran teknologi digital yang membuat aktivitas ekonomi masyarakat lebih efisien.

"Dan meningkatkan perekonomian," ucap Aldi, peraih gelar MBA dari Harvard Business School dan gelar B.A.Engineering dari Purdue University, Amerika Serikat. (dna/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed