Mafia Kedelai Bikin Anjlok Harga Kedelai
Kamis, 18 Agu 2005 21:06 WIB
Yogyakarta - Mafia bisnis perdagangan kedelai impor yang membuat harga kedelai lokal anjlok. Mereka bisa memainkan harga kedelai di pasaran seenaknya sehingga harga kedelai lokal semakin jauh.Hal itu dikatakan pakar pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Marry Astuti kepada wartawan seusai acara Panen Kedelai Hitam di Dusun Samparan Caturharjo Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Kamis (18/8/2005)."Secara kualitas kedelai kuning dari Indonesia tidak kalah dengan kedelai impor, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa dengan mafia bisnis kedelai impor. Mereka bisa memainkan harga seenaknya bahkan dalam sehari harga bisa berupa sampai tujuh kali," kata Marry.Menurut Marry kebutuhan kedelai sebagai bahan pangan sumber protein di Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan. Namun produktivitas petani dalam membudidayakan tanaman kedelai beberapa tahun ini mengalami penurunan produksi. Hal ini diakibatkan oleh karena kebijakan pemerintah yang membuka lebar masuknya kedelai impor ke Indonesia.Marry mengatakan agar kedelai lokal kembali terangkat dan banyak diminati petani untuk ditanam, pemerintah seharusnya merubah regulasinya dengan membatasi masuknya kedelai impor dalam jumlah besar. Selain itu pemerintah juga berupaya meningkatkan produksi kedelai sehingga produksi kedelai kuning maupun hitam kembali terangkat."Karena ada kedelai impor, harga jual kedelai lokal milik petani jatuh, dipasaran tidak sampai Rp 2 ribu per kilogram bahkan tidak sampai segitu harganya sehingga dianggap kurang memberi keuntungan," kata staf pengajar Fakultas Teknologi Pertanian UGM itu.Selain itu katanya, petani juga menganggap menanam kedelai itu bukan sebagai main product. Sedangkan main productnya adalah menanam padi. Akibatnya menanam kedelai itu dilakukan dengan cara asal-asalan dan tidak diolah dan dipelihara dengan baik sehingga hasilnya rendah. "Itu yang jadi kendala saat ini, mereka asal tanam sebagai tanaman sela setelah padi. Itu yang harus diubah," katanya.Marry mengatakan varietas kedelai lokal sebenarnya tidak kalah dengan kedelai Amerika. Rata-rata kedelai jenis kuning di Amerika sekitar 2 ton per hektar dan di Cina hanya 1,1 ton per hektar. Sedangkan di Indonesia juga sudah mencapai 1,1 ton/hektar bahkan beberapa petan di Jawa Timur ada yang bisa mencapai 2,4 ton/hektar. "Jadi kalau sebetulnya penanamannya bagus dengan system good agricultural practises, kita tak kalah. Hanya saja policy pemerintah soal impor kedelai masih belum berubah. Ini sudah baik, harus ada upaya swasembada kedelai dengan membuka lahan di liar Jawa, tinggal bagaimana usaha Deptan mengusahakan benih yang bagus baik kedelai kuning dan hitam sehingga kita tidak bergantung lagi pada kedelai impor," katanya.Sementara itu ditempat yang sama Okti Damayanti, General Manajer Yayasan Unilever Indonesia menambahkan upaya yang dilakukan petani Samparan Maju Caturharjo dalam membudidayakan tanaman kedelai hitam di lahan seluas 120 hektar ternyata berhasil, bahkan sempat juara nasioanl untuk kedelai tahun 2004. Semua kedelai hitam yang dipanen petani saat ini langsung ditampung oleh PT Unilever sebagai mitra UKM untuk mencukupi produksi Kecap Bango sebagai mitra UKM. Selain itu Bantul, program penanaman kedelai hitam varietas baru itu juga akan ditanam di daerah lain di Jawa Barat, Nganjuk, Blitar, Trenggalek dll yang menjadi sentra kedelai lokal.
(mar/)











































