Merrill Lynch: Harga Minyak Tahun 2005 Rata-rata US$ 56
Jumat, 19 Agu 2005 11:48 WIB
Jakarta -
Global Energy Team Merrill Lynch akhirnya merevisi prediksi rata-rata harga minyak jenis light pada tahun 2005 menjadi US$ 56 per barel. Angka ini berarti naik US$ 6, dibandingkan angka prediksi Merrill Lynch sebelumnya. Hingga saat ini, rata-rata harga minyak dunia telah mencapai US$ 53,71 per barel. Merrill Lynch memrediksi harga minyak mentah jenis light AS akan bertahan sekitar US$ 42 mulai tahun 2009. Angka tersebut berarti naik 40 persen dibandingkan prediksi Merrill Lynch sebelumnya. Hal itu berdasarkan keyakinan bahwa kapasitas produksi baru kilang-kilang minyak akan mulai muncul pada tahun 2007. Selain itu kapasitas tambahan kilang baru akan bermunculan.Merrill Lynch juga menilai, lonjakan harga minyak dunia akhir-akhir ini dipicu oleh berita-berita seputar gangguan suplai baik di sektor hulu maupun di kilang-kilang. Selain itu juga disebabkan naiknya suku geopolitik di Timur Tengah."Dalam pandangan kami, meningkatnya harga minyak akhir-akhir ini dipicu oleh gangguan suplai jangka pendek dan naiknya suhu geopolitik," demikian pernyataan Merrill Lynch seperti dilansir Reuters, Jumat (19/8/2005). "Dalam jangka yang lebih panjang, kami percaya level harga minyak US$ 60 per barel tidak akan berlangsung terus menerus dan diharapkan harga minyak bisa surut," kata Merrill Lynch.Rival Merrill Lynch, yakni Goldman Sachs bahkan memrediksi harga minyak jangka panjang secara rata-rata mencapai US$ 60 per barel. Pialang energi dan keuangan dunia ini menilai, tingginya harga minyak tersebut disebabkan karena berkurangnya investasi di bidang eksplorasi dan produksi.Namun menurut Goldman, meski harga minyak terus mencatat rekor tertingginya, perusahaan-perusahaan minyak lebih senang menyimpang dananya yang diperkirakan mencapai US$ 500 miliar, ketimbang membelanjakan uangnya untuk membuat proyek. Hal itu disebabkan karena investasi baru belum jelas tingkat keuntungannya. Lonjakan harga minyak dunia akhir-akhir ini juga memaksa pemerintah Indonesia dalam revisi tahap kedua APBN-P 2005 mengubah rata-rata asumsi harga minyak sebesar US$ 50,6 per barel, dari asumsi semula US$ 40 per barel.
(qom/)










































