Follow detikFinance
Jumat, 12 Okt 2018 13:10 WIB

Saat Para Delegasi IMF-WB Penasaran Membatik Pakai Canting

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Dok. Kementerian BUMN Foto: Dok. Kementerian BUMN
Nusa Dua - Bicara batik saat ini, boleh bisa dibilang sudah jadi fashion dunia. Banyak tokoh ternama dunia tampil di depan publik dengan mengenakan pakaian khas Indonesia ini. Tak heran, jika batik jadi daya pikat di Indonesia Pavilion, Nusa Dua, Bali. Etalase batik Indonesia cukup ramai disambangi peserta maupun delegasi pertemuan IMF-Bank Dunia 2018.

Perajin Batik Lasem di Indonesia Pavilion, Jumiati mengaku sering kewalahan meladeni permintaan delegasi asing yang meminta belajar membatik. Di booth yang ditempatinya bersama sang suami, Sugiyarto, keduanya memang dengan tangan terbuka menyambut siapapun yang ingin mencoba belajar nyanting, istilah untuk menggambar pola motif batik pada kain dengan cairan lilin.

"Sering sekali bule-bule datang minta diajarkan mbatik atau nyanting. Kita pasti ajarkan cara pakai canting. Karena bagi mereka (orang asing), melihat aktivitas membatik, itu menyenangkan sekali," ucap Jumiati, Jumat (11/10/2018).


Tak cuma antusias belajar nyanting, puluhan lembar kain batik yang dibawanya dari Lasem juga laris manis dibeli para peserta dan delegasi Pertemuan IMF-WB. Harga Batik Tulis Lasem bervariasi, dari mulai Rp 360.000 sampai Rp 7 juta.

"Saya enggak ngerti bahasa mereka, selama ini dibantu penerjemah. Tahunya mereka mau coba merasakan langsung nyanting batik. Kalau bulenya senang, langsung ke saya dikasi jempol. Kemarin juga banyak sekali yang beli batik yang saya bawa, karena kebetulan di sini saya sengaja bawa untuk dijual," ujar Jumiati.


Soal motif, kata Jumiati, Batik Lasem banyak menampilkan burung, bunga, liong, dan pola lainnya yang sangat dipengaruhi budaya Tiongkok. Batik Lasem dengan motif seperti Sekar Jagat (Bunga Sejagat) yang memiliki motif berbagai bunga, Batik Baganan yang memiliki motif Kawong Mata Dua, Kawong Bunder, Gitaran, Kawong Rambutan, Kawong Melati dan Sidomukti.

Salah satu warna khas dari batik Lasem adalah getih pitik atau merah darah ayam. Ini bukan berarti warna merah dihasilkan dari darah ayam asli, melainkan campuran dari bubuk pewarna merah alami dengan air lasem pada zaman dahulu. Warna lain yang kerap menghiasai kain adalah merah, biru, oranye, kuning, dan cokelat.

"Batik Lasem ciri khasnya yakni tulis. Jadi tidak ada Batik Lasem yang menggunakan cap dan mesin. Kemudian warna merah jadi warna dominan untuk beberap motif," ungkap pemilik usaha batik berusia 46 tahun ini.

Para Bule IMF-Bank Dunia di Nusa Dua yang Terkesan dengan BatikPengrajin Batik Lasem Jumiati (Dok. Kementerian BUMN)

Di Lasem, Jumiati merupakan bagian dari kelompok usaha mikro Batik Lasem yang dibina oleh Bank BNI. Jumiati yang belajar membatik sejak sekolah dasar ini meneruskan usaha batik tulis dari orang tuanya.

"Di Lasem anggota kita ada 60 perajin. Kalau saya sendiri sama suami batik sudah jadi usaha utama, setidaknya dari menjual batik ada omzet Rp 20-25 juta. Alhamdulillah di kelompok kita juga dibantu kredit dan pelatihan dari BNI lewat PKBL, termasuk kita dibantu ikut pameran seperti sekarang ini," tuturnya.

Di Indonesia Pavilion, batik jadi salah satu yang ditonjolkan untuk bisa lebih dikenal dunia. Menurut data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), capaian nilai ekspor batik dan produk batik pada 2017 sebesar US$ 58,46 juta atau setara Rp 889 miliar lebih (kurs Rp 15.210).


Pasar utama batik Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat (AS), dan negara-negara di Eropa. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ikut berperan aktif dalam industri kreatif, salah satunya batik. Lembaga ini memiliki mitra binaan yang sudah go international pula.

Di setiap momen potensial dalam memperluas citra batik nasional, BUMN selalu berusaha menampilkan kreasi-kreasi batik terkini. Salah satu momennya lewat Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF)-World Bank (WB) 2018, yang diselenggarakan di Nusa Dua Bali pada 8-14 Oktober 2018.

Foto: ANTARA FOTO/ICom/Am IMF-WBG/Zabur Karuru

Di perhelatan internasional ini, BUMN menghadirkan Indonesia Pavilion, yang juga didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kementerian Keuangan.

Indonesia Pavilion itu sendiri merupakan pameran yang menampilkan banyak hal menarik tentang Indonesia dari segi pembangunan, bisnis, proyek-proyek strategis nasional, wisata hingga kekayaan seni budaya, serta kerajinan tangan khas Indonesia, termasuk batik Indonesia.

Baca juga informasi Indonesia Pavilion IMF-WBG selengkapnya di sini.




Tonton juga 'Jokowi Mencicipi Kopi Solidaritas di IMF-World Bank':

[Gambas:Video 20detik]

(idr/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed