Sri Mulyani Yakinkan Investor Dunia Agar Mau Masuk Indonesia

Hendra Kusuma - detikFinance
Minggu, 14 Okt 2018 15:41 WIB
Foto: Rachman Haryanto
Nusa Dua - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan Indonesia adalah negara besar dengan banyak kesempatan dan banyak sektor swasta. Ia ingin agar International Finance Cooperation (IFC) tidak hanya membuat bisnis tapi juga memberikan sense of development dan sense of innovation.

Demikian disampaikan Sri Mulyani dalam IFC Annual Meeting Client Reception, di tengah Pertemuan Tahunan IMF-WBG Bali 2018. Acara pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat kerjasama teknis guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menkeu menekankan agar IFC dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kami harapkan IFC bisa menjadi institusi yang menciptakan kreativitas dan keterbukaan. Karena pertumbuhan saat ini lima persen, tidak terlalu tinggi. Kami ingin banyak sektor swasta ke Indonesia. Sebagai negara berkembang saya ingin IFC bisa meyakinkan bahwa satu dolar yang diinvestasikan (di Indonesia), bisa diinvestasikan di sektor yang tepat," kata Sri Mulyani di Nusa Dua, Bali, Minggu (14/10/2018).


Sementara itu, CEO IFC Philippe Le Houerou mengapresisasi pemerintah Indonesia dan juga menyampaikan rasa duka atas bencana di Palu dan Lombok. Menurutnya, IFC sangat mendukung perbaikan iklim investasi di Indonesia dan ingin menarik investor swasta asing ke berbagai sektor yang tersedia di Indonesia.

"Saya berjanji dengan Menteri Keuangan, kita bukan hanya memanfaatkan kesempatan, tapi juga menciptakan kesempatan. Kita telah sepakat untuk meningkatkan peran sektor swasta," lanjut Philippe.

International Finance Cooperation (IFC) adalah lembaga keuangan internasional yang didirikan sebagai afiliasi Bank Dunia, dengan tujuan membantu pembiayaan pembangunan negara-negara anggota melalui pemberian pinjaman atau penyertaan pada sektor swasta.


Selain Menkeu, turut hadir beberapa pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan, antara lain Sekretaris Jenderal Kemenkeu Hadiyanto, Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Astera Primanto Bhakti, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Luky Alfirman, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara, dan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Rionald Silaban. (hek/dna)