Follow detikFinance
Selasa, 09 Okt 2018 17:12 WIB

Tapal Batas

Pedagang di Perbatasan RI-PNG Bisa dapat Omzet Jutaan per Hari

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Muhammad Ridho Foto: Muhammad Ridho
Skouw - Roda ekonomi berputar cukup pesat di wilayah tapal batas Indonesia dengan Papua Nugini. Di sana, warga Indonesia hingga Papua Nugini menjadi pendorong utama dari laju ekonomi.

Pasar Skouw menjadi pusat kegiatan ekonomi di wilayah perbatasan. Baik orang asal Indonesia hingga Papua Nugini ramai berbelanja di Pasar Skouw. Ujungnya, para pencari rezeki tentu yang ketiban untung.

Sejumlah pedagang di Pasar Skouw mengaku dalam sehari bisa mendapatkan omzet hingga jutaan karena saking ramainya kegiatan ekonomi. Transaksi jual-beli sangat tinggi terjadi di sana. Salah satunya ialah Erawati.

Erawati yang berasal dari Sulawesi, tepat tepatnya Makassar menjual beragam pakaian di sana. Di perbatasan, Erawati beruntung bisa mendapatkan tempat di Pasar Skouw untuk menjajakan barang dagangannya.

Dia mengaku omzet yang didapat dalam sehari mencapai Rp 1 juta lebih dari hasil jualan pakaian tersebut. Apalagi saat hari pasar terjadi.

"Di sini kalau jualan hasilnya lumayan. Kalau hari pasar bisa dapat Rp 1,5 juta sehari, itu Selasa dan Kamis. Kalau hari biasa paling Rp 1 juta. Perputaran uangnya lebih tinggi di sini daripada tempat saya dulu," kata dia kepada detikFinance, beberapa waktu lalu.

Hari pasar memang menjadi puncak orang-orang di perbatasan untuk berbelanja. Hari pasar sendiri terjadi dua kali dalam seminggu, yakni pada Selasa dan Kamis. Selain hari pasar, transaksi memang tetap berjalan. Namun, tak seramai saat hari pasar itu.


Hal itu pun dialami oleh pedagang lainnya di perbatasan. Siti Badriyah, perempuan asal Banyuwangi yang menjual makanan dan kopi keliling Indonesia bisa mendapatkan omzet hingga Rp 2 juta per hari.

Menurut Siti, pesatnya perputaran uang di wilayah tersebut tak lepas dari adanya pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw. Seiring dengan PLBN yang telah berdiri dengan mewah nan megah, kegiatan ekonomi juga terus berkembang di sana.

Pasalnya, dua tahun yang lalu, sebelum PLBN diresmikan seperti sekarang ini pendapatan Siti paling-paling hanya Rp 1 juta per hari. Namun sekarang siti bisa meraup omzet dari jualan starling hingga Rp 2 juta sekali, meningkat 2 kali lipat. Omzetnya itu belum termasuk dari warung makan yang dimiliki Siti di kawasan Pasar Skouw.

Namun Siti malu-malu untuk menyebutkan berapa total omzet atau pendapatan dari semua usahanya itu. Siti cuma bilang, yang penting bisa untuk beli rumah, kendaraan, dan menguliahkan anak-anaknya.

"Itu nggak sampai sehari, paling jam dua sudah pulang, alhamdulillah sudah habis. Yang penting cukup untuk keluarga," katanya.

Perputaran uang yang tinggi itu tak hanya dikuasai oleh rupiah, tapi juga mata uang negara Papua Nugini, yakni kina. Dua mata uang berlaku di perbatasan tersebut.


Walau begitu, mereka tak khawatir karena adanya tempat penukaran uang atau money changer di PLBN Skouw. Layanan money changer itu disediakan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.

Biasanya, para pedagang asal Indonesia menukarkan uang kina yang didapat dari pembeli asal Papua Nugini ke rupiah di money changer tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Siti.

"Saya nasabah BRI saja di sini. Terbantu kalau ada BRI. Kan sekarang kalau setor tunai juga bisa di sana," tutur Siti. (fdl/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed