Follow detikFinance
Selasa, 16 Okt 2018 17:20 WIB

BUMDes Diharapkan Jadi Kunci Pergerakan Ekonomi Desa

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Foto: Dok Kemendes Foto: Dok Kemendes
Jakarta - Pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan salah satu cara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah pedesaan. BUMDes diharapkan dapat menjadi lembaga kunci penggerak ekonomi desa.

"BUMDes diharapkan dapat menjadi lembaga ekonomi yang menjadi kunci untuk memicu pergerakan ekonomi desa ke depan. Di dalamnya terdapat aspek pemberdayaan secara utuh, tidak hanya pemberdayaan ekonomi, melainkan juga pembangunan kelembagaan, penguatan kapasitas SDM dan manajerial, pengembangan jejaring ekonomi dan hilirisasi ekonomi," kata Sekjen Kemendes PDTT Anwar Sanusi dalam keterangan tertulis, Selasa (16/10/2018).


Pada acara Four High-Level Meeting on Country-Led Knowledge Sharing (HLM on CKS) 4 "Local Innovation as a Driver for Global Development" di Nusa Dua, Bali, kemarin, Anwar mengatakan jumlah BUMDes mengalami peningkatan yang signifikan. Ia menjelaskan pada akhir 2014, jumlah BUMDes hanya 1.022. Namun hingga akhir tahun 2017 meningkat menjadi 39.149 BUMDes. Kemudian pada 2018 ini tercatat sekitar 56% desa telah memiliki BUMDes. Meski demikian ia mengakui kalau masih ada BUMDEs yang masih belum efisien.

"Apa yang membuat belum efisien? Mungkin tidak didukung oleh SDM yang mumpuni. Sebagai solusi kami memiliki pendekatan dalam mendidik desa melalui Akademi Desa 4.0. Kami coba latih desa dari aspek pembangunan desa termasuk BUMDes-nya. Bursa Inovasi Desa juga menjadi media untuk saling bertukar informasi," lanjutnya.


Diungkap oleh Perbekal (Kepala Desa) Desa Kutuh, I Wayan Purja, masing-masing desa memiliki peluang yang berbeda. Ia mencontohkan BUMDEs di wilayahnya. Kata Wayan, setelah melalui beragam tahapan BUMDes Desa Kutuh kini telah berjalan. Dengan perkembangan itu, lanjut Wayan, BUMDes di wilayahnya kini memiliki 8 unit usaha dan 2 layanan.

"Sekarang Desa Kutuh nol kemiskinan dan nol pengangguran. Di desa berbagi keuntungan, membantu menjadi usaha-usaha kecil dan menciptakan 200 pengusaha. BUMDes menyediakan barang dan mendistribusikannya ke warung dan kafe. Hampir tiap tahun bisa menyekolahkan warganya ke tingkat sarjana dan master," ungkapnya.

Sementara itu Woo Sung Lee dari (Science and Technology Policy Institute) STEPI South Korea menjelaskan terkait inovasi lokal di Korea. Ia mengatakan program pemerintah Korea yang baru yang diinisasi LSM dan pihak swasta membantu pemerintah melihat dan mengembangkan kearifan lokal masyarakat.

Informasi lebih lanjut soal Kemendes PDTT bisa dilihat di sini. (ega/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed