Follow detikFinance
Senin, 22 Okt 2018 22:07 WIB

Menlu Beberkan 3 Alasan RI Jadi Tuan Rumah Konferensi Laut Dunia

Ray Jordan - detikFinance
Menlu Retno Marsudi/Foto: Ari Saputra/detikcom Menlu Retno Marsudi/Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta - Indonesia menjadi tuan rumah konferensi laut dunia atau Our Ocean Conference (OOC) 2018 di Bali. Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menjelaskan alasan Indonesia menjadi tuan rumah acara internasional tersebut.

Pertama, untuk memperkiuat kebijakan soal 'maritime fulchrum' kebijakan yang berkaitan dengan kelautan.

"Ini merupakan bagian dari prioritas yang dijalankan Presiden dalam bidang yang terkait dengan masalah ocean," kata Retno di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (22/10/2018).

Retno juga mengatakan Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan OCC yang kelima. Keputusan Indonesia menjadi tuan rumah juga untuk menunjukkan kemampuan Indonesia dalam kepemimpinan.

"Berarti di sini sekaligus menunjukkan leadership Indonesia untuk ocean-related issues. Kalau lihat ketika kita bicara tentang diplomasi perdamaian, diplomasi kemanusiaan maka nama Indonesia itu sudah pop up tinggi sekali. Orang paham persis apa yang dilakukan Indonesia di bidang diplomasi kemanusiaan, diplomasi perdamaian," katanya.

Selain itu, lanjut Retno, pemerintah ingin Indonesia juga unggul dalam diplomasi kebijakan kelautan.

"Kita ingin bahwa nama Indonesia juga selalu pop up selalu muncul pada saat dunia bicara mengenai ocean diplomacy. Kerena sebenarnya pada saat kita bicara mengenai ocean kita bicara mengenai kita, 2/3 wilayah kita terdiri dari air. Masa depan kita akan sangat ditentukan bagaimana kita mengelola laut kita, samudera kita secara berkesinambungan. Jadi it is not their issue, it is our issue," jelasnya.

Retno juga mengatakan, tema yang diambil untuk OOC yakni 'Our Ocean, Our Legacy'. Oleh karena itu, isu yang diangkat yakni mengenai kemepimpinan dalam artian yang memberikan kontribusi ke dunia.

"Kedua, dengan menjadi leader untuk ocean issues, kita juga menunjukkan beberapa action, karena pertemuan ini sifatnya action-oriented. Konkret sifatnya. Yaitu dalam bentuk hal-hal apa yang dilakukan Indonesia yang dikomitmenkan oleh Indonesia antara lain adalah untuk marine plastic debris," jelasnya.

Karena itu, lanjut Retno, pada 28 Oktober 2018 akan ada gerakan pembersihan pantai. "Sehingga dunia akan melihat bahwa we are serious in addressing the issues," ucapnya.

Ketiga, kata Retno, mengenai masalah keberpihakan Indonesia terhadap negara-negara kepuluan yang kecil. Hal ini juga menjadi penting bagi Indonesia.

"Banyak sekali kepulauan-kepulauan kita yang kecil yang juga rentan kalau misalnya dampak climate change mengena kepada kita. Dan ini merupakan janji kita pada saat kampanye dewan keamanan untuk terus menyuarakan kepentingan negara-negara kepulauan kecil," katanya.

Konferensi laut dunia akan dihadiri sekitar 7 kepala negara/kepala pemerintahan, 6 Presiden, 1 wakil Presiden, dan 36 menteri.

"Dari dr 7 itu 3 akan berasal dari Pasifik Selatan. Jadi sekali lagi masalah ocean kita tidak bicara mengenai masalah dunia, tetapi kita bicara mengenai masalah kita sendiri. Bagaimana mengelola ocean secara berkesinambungan untuk anak cucu kita," kata Retno.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, banyak keuntungan yang bisa diambil lewat kegiatan OOC tersebut. Terutama di bidang kemaritiman.

"Kan kita mau jadi fulcrum maritime, poros maritim, ya harus kita menunjukkan leadership kita seperti Bu Menlu bicara kalau di kemanusiaan di perdamaian Indonesia sudah tunjukkan leadershipnya. Di bidang maritim kita ini salah satu pemilik laut terbesar, tentunya apa saja kebijakan internasional ya akan berpengaruh kepada kita, karena kita salah satu pemilik laut terbesar di dunia," jelas Susi. (jor/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed