Geger Pembunuhan Khashoggi, Arab Saudi Tetap Teken Deal Rp 725 T

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 24 Okt 2018 12:42 WIB
Foto: Dok. REUTERS/Murad Sezer
Jakarta - Arab Saudi telah menandatangani perjanjian bisnis senilai lebih dari US$ 50 miliar dengan perusahaan global pada konferensi investor di Riyadh. Nilai tersebut setara Rp 725 triliun (kurs Rp 14.500).

Kondisi tersebut menunjukkan gemparnya dunia internasional atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi tidak menjadi sentimen negatif. Bisnis di Arab Saudi secara nyata tetap berjalan.

Melansir CNN, Rabu (24/10/2018), perusahaan minyak asal Arab Saudi, Aramco mengumumkan pada Selasa telah menandatangani 15 nota kesepahaman senilai US$ 34 miliar dengan perusahaan dari delapan negara, termasuk Amerika Serikat (AS), di Future Investment Initiative.



CEO Aramco Amir Nasser mengatakan kepada CNN, transaksi senilai US$ 16 miliar telah dilakukan di sektor lain dalam ekonomi Arab Saudi.

Perusahaan yang bermitra dengan Aramco di antaranya adalah perusahaan jasa ladang minyak AS Halliburton (HAL), Schlumberger (SLB) dan Baker Hughes (BHGE). US Air Products konglomerat (APD) akan bekerja pada proyek pembangkit listrik tenaga gas.

Total Perancis (TOT) telah setuju untuk memulai studi teknik untuk membangun kompleks petrokimia, serta bermitra dengan Saudi Aramco di jaringan SPBU ritel. Hyundai Heavy Industries, dari Korea Selatan, akan mengembangkan fasilitas maritim.

Perusahaan-perusahaan yang tersisa untuk menandatangani kesepakatan dengan Aramco berbasis di Uni Emirat Arab, Jepang, India, dan China.

"Kolaborasi ini mencerminkan jangkauan dan ambisi kepentingan bisnis Saudi Aramco, memperkuat posisinya sebagai perusahaan energi dan bahan kimia terkemuka di dunia," kata Aramco dalam sebuah pernyataan.


Sementara transaksi lain mungkin belum ditandatangani di konferensi "Davos in the desert". Perjanjian yang diumumkan oleh Aramco menggarisbawahi pentingnya perusahaan minyak terhadap ekonomi kerajaan Arab Saudi.

Pangeran Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman telah menggelontorkan dana ke dalam proyek pariwisata domestik dan perusahaan teknologi global sebagai bagian dari upaya untuk mendiversifikasi ekonomi.

Future Investment Initiative, yang dimulai pada hari Selasa itu, dimaksudkan untuk menyoroti inisiatif tersebut dan menunjukkan upaya modernisasi Arab Saudi.

Sebaliknya, putra mahkota bergulat dengan kecaman internasional atas apa yang terjadi pada Khashoggi.

Seperti diketahui, Khashoggi adalah wartawan Arab Saudi yang tewas secara misterius. Khashoggi dikonfirmasi tewas di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Khashoggi awalnya menghilang tanpa jejak setelah memasuki kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, Selasa (2/10). Diketahui, Khashoggi hendak mengurus dokumen pernikahan di kantor konsulat.

Otoritas Turki turun tangan dan melakukan penggeledahan di kantor Konsulat Arab Saudi. Pejabat-pejabat Turki secara terbuka mulai menyatakan bahwa mereka yakin Khashoggi dibunuh di dalam Konsulat Saudi.






Tonton juga 'AS Jatuhkan Sanksi Bagi Pembunuh Khashoggi':

[Gambas:Video 20detik]

(zlf/zlf)