BBM Industri Naik, Pabrik Serat Sintetis PHK 10 Ribu Pegawai
Rabu, 24 Agu 2005 14:35 WIB
Jakarta -
Kenaikan harga BBM bagi industri per 1 Agustus 2005 lalu menyebabkan membengkaknya biaya produksi serat sintetis Indonesia. Akibatnya, industri itu berencana merumahkan 9-10 ribu karyawannya untuk efisiensi."Kami dengan terpaksa harus merumahkan karyawan dalam 2-3 bulan ke depan sekitar 9.000-10.000 dari 40.000 karyawan di 13 perusahaan," kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Syntetik Fiber Indonesia (APSyFI) Bacelius Ruru di Gedung Great River, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (24/8/2005).Menurutnya, sejak kenaikan harga BBM pada 1 Agustus lalu, maka biaya produksi serat sintetis membengkak menjadi US$ 2 juta per bulan. Hal inilah yang menyebabkan harga jual juga terpaksa dinaikkan dari US$ 0,07 per kilogram menjadi US$ 0,15 per kilogram. "Akibatnya produk Indonesia kalah bersaing, padahal dari 1 juta ton produk serat sintetik Indonesia, sebanyak 30 persen diekspor," kata Ruru.Dijelaskan oleh mantan Sekretaris Menneg BUMN ini, akibat kalah bersaingnya produk Indonesia, maka dipastikan penerimaan devisa dan pajak dari sektor ini juga turun. Sebelumnya tercatat penerimaan devisa dari ekspor serat sintetis mencapai US$ 350 juta per tahun, kemudian pendapatan pajak sebesar Rp 130 miliar per tahun.Terkait kenaikan harga BBM, APSyFI berpendapat, sebaiknya industri diperbolehkan impor BBM langsung tanpa melalui Pertamina untuk mendapatkan harga yang terbaik. "Kami meminta agar kenaikan BBM atau dicabutnya subsidi bagi industri dijadwalkan ulang dengan kenaikan bertahap agar industri mempertahankan infrastruktur energi alternatif seperti gas atau pun batubara," ujarnya.Tahapan kenaikan itu diusulkan sebesar 25 persen setiap tiga bulan sekali, sehingga dalam waktu setahun ini harga BBM dapat disesuaikan dengan harga internasional. Selanjutnya, pungutan daerah seperti retribusi dan pajak daerah juga ditinjau ulang, bahkan jika perlu dihilangkan.Pengurus APSyFI Suresh Khurana mengatakan, pemerintah harus mengawasi penyelundupan, karena dengan naiknya biaya produksi, maka harga jual dalam negeri akan naik. "Dengan adanya harga impor serat sintetis yang lebih murah, maka 70 persen produk kami ke dalam negeri bisa berkurang 20 persen yang mengakibatkan perumahan karyawan," tegasnya.Disebutkan Suresh, saat ini baru empat perusahaan yang sudah menyiapkan diri untuk beralih ke energi batubara dengan membangun power plant. Keempat perusahaan itu adalah Panasia, Tifico, Toray dan Indorama dengan biaya pembangunan per megawatt 10 miliar. Sayangnya perbankan masih belum melirik sektor ini sebagai salah satu sektor yang layak dibiayai.
(san/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































