"Potensi produk holtikultura dan peternakan kita sangat besar, saya yakin kita mampu memenuhi permintaan Iran," kata Kepala Pusat Kepatuhan, Kerja sama dan Informasi Publik Badan Karantina Pertanian (Barantan) Arifin Tasrif dalam keterangan tertulis, Jumat (2/11/2018).
Hal tersebut disampaikannya dalam pembahasan kerja sama antara perwakilan Kedutaan Besar Iran Naser Kamali dan Mohamad Tavakoli dengan Arifin di Jakarta, pada Kamis (1/10/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nilai impor Indonesia dari Iran pada 2017 hanya sebesar 5.8% atau senilai US$ 4.016.914, di antaranya berupa kurma, anggur, kacang hijau, dan kacang mede. Sedangkan nilai ekspor Indonesia ke Iran pada 2017 sebanyak US$ 69.239.009,08, yaitu untuk komoditas kelapa sawit, kelapa, karet, dan kopi.
"Kita akan dorong manggis, nanas, mangga, lada, nugget, sarang walet, dan pakan ternak," kata Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Barantan Antarjo Dikin.
Pada pertemuan tersebut, Barantan juga mengusulkan agar dibuat kerja sama karantina dalam joint committee on agriculture terkait sanitary and phytosanitary atau yang dikenal dengan protokol karantina. Diharapkan dengan begitu ada peningkatan nilai perdagangan kedua negara tersebut.
"Kalau kita bisa direct atau langsung, semoga kita bisa dapat harga yang lebih rasionable," jelasnya.
Hal itu pun disambut baik oleh Naser. Pihak Iran juga meminta agar Kementerian Pertanian melalui Barantan segera mengesahkan laboratorium keamanan pangan Iran yang teregistrasi untuk komoditas pangan segar asal tumbuhan. Dengan adanya pengesahan ini maka ekspor produk Iran tidak lagi terhambat.
"Kami sangat berharap poin-poin kerja sama yang telah dibahas dapat selesai pada pertemuan mendatang di bulan Desember," harap Naser.
(mul/ega)











































