Boyolali Disinggung Prabowo, Ternyata Ekonominya Mengejutkan

Boyolali Disinggung Prabowo, Ternyata Ekonominya Mengejutkan

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 07 Nov 2018 07:35 WIB
Boyolali Disinggung Prabowo, Ternyata Ekonominya Mengejutkan
Kebun Raya Boyolali. Foto: (Ragil Ajiyanto/detikTravel)
Jakarta - 'Tampang Boyolali', ungkapan itulah yang membuat daerah yang berada di kaki Gunung Merapi dan Merbabu ini ramai dibicarakan beberapa hari ke belakang.

Apalagi, yang mengungkapkan kalimat tersebut adalah calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto saat berkunjung ke Kabupaten Boyolali.

Dari ungkapannya itu, tidak sedikit orang Boyolali merasa kecewa karena secara langsung dianggap rendah, namun sebagian juga menganggap bahwa hal tersebut murni lelucuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, sebelum jauh terjebak oleh polemik 'Tampang Boyolali', simak sisi ekonomi daerah yang dipimpin oleh Seno Samudro sebagai Bupati Kabupaten Boyolali.

Kondisi Ekonomi Boyolali

Kebun Raya Boyolali. Foto: (Ragil Ajiyanto/detikTravel)
Berdasarkan penelurusan detikFinancedi laman resmi Kabupaten Boyolali, Selasa (6/11/2019), Bupati Boyolali Seno Samudro mencanangkan program 'Boyolali Pro Investasi'.

Program tersebut membuatnya bergerak cepat agar cita-cita Boyolali sebagai daerah maju segera terwujud. Adapun, lima sektor potensi dan peluang investasi di sana yaitu, kawasan industri, sektor peternakan dan perikanan. Selanjutnya, sektor pertanian dan perkebunan, sektor pariwisata, dan yang terakhir sektor infrastruktur.

Kawasan industri yang dimaksud terbagi dalam tiga kawasan yaitu industri besar, industri menengah dan industri kecil. Peruntukan industri besar berupa jenis industri permesinan, listrik, tekstil, alat angkutan, makanan, galian bukan logam, industri kayu, dan industri sejenis lainnya seluas kurang lebih 1.176 hektar.

Sektor peternakan dan perikanan, Boyolali memiliki industri pengolahan susu yang berada di Kecamatan Selo, Cepogo, Ampel, Boyolali, Musuk, dan Mojosongo. Populasi sapi perah sebanyak 88.430 ekor dengan produksi 46.906.493 liter per tahun, dengan rata-rata per hari 130.296 liter.


Produk Asli Boyolali Diekspor Sampai AS

Kebun Raya Boyolali. Foto: (Ragil Ajiyanto/detikTravel)
Masih berdasarkan penelusuran detikFinance di laman resmi Kabupaten Boyolali, Selasa (6/11/2019), Boyolali memproduksi berbagai kerajinan tembaga dan aluminium yang merupakan salah satu produk unggulan.

Industri kerajinan itu juga sudah turun temurun di Desa Tumang, Cepogo, kembangkuning, Cabeyan Kunti, Kecamatan Cepogo. Beberapa desa itu memiliki predikat penghasil kerajinan tembaga baik di tanah air maupun internasional.

Produk yang dibuat diantaranya asbak, vas bunga, lampu, kendi, bokor, kap lampu, dan ornamen arsitektur. Produk-produk tersebut pun sudah diekspor ke Australia, Maroko, Amerika Serikat (AS), dan beberapa negara di Eropa.

Boyolali Juga Punya Abon Lele

Kebun Raya Boyolali. Foto: (Ragil Ajiyanto/detikTravel)
Berdasarkan penelusuran detikFinancedi laman resmi Kabupaten Boyolali, Selasa (6/11/2019), daerah yang dipimpin oleh Seno Samudro ini juga memproduksi makanan yang diolah dari ikan lele.

Pengolahan ikan lele berada di Kecamatan Sawit dan Teras dengan produksi setiap harinya sebanyak 42 ton. Dari jumlah tersebut juga ada yang dibuat makanan olahan abon, keripik kulit, keripik sirip, hingga rambak.

Jumlah produksi abon lele sebanyak 600 kilogram (kg) per bulan, keripik kulit lele 600 kg per bulan, keripik sirip lele 150 kg per bulan, rambak 150 kg per bulan dengan area pemasaran Jakarta, Surabaya, Batam, Surakarta, dan Salatiga.

Pemerintah Kabupaten Boyolali menyediakan infrastruktur untuk lahan perluasan kawasan minapolitan berupa pengembangan budidaya lele di Desa Tanjungsari Kecamatan Banyudono, Desa Gumukrejo dan Doplang di Kecamatan Teras.

Kemudian ada pengembangan budidaya ikan dan udang di Desa Cepokosawit Kecamatan Sawit serta pengembangan Kampung Lele di Desa Tegalrejo Kecamatan Sawit.

Adapun rencana kapasitas anggaran investasi sebesar Rp 8,99 miliar yang diperuntukkan pembuatan infrastruktur jalan usaha tani, sumur artetis, saluran, gudang pakan, dan sarana pengembangan agribisnis lainnya.

Sudah Ada US$ 1,90 Juta Investasi Masuk Boyolali

Kebun Raya Boyolali. Foto: (Brigida Emi Lilia/d'Traveler)
Meski jadi bahan guyonan, Boyolali menjadi salah satu tujuan investasi di Pulau Jawa. Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM) mencatat daerah yang berlokasi di kaki Gunung Merapi dan Merbabu ini terdapat investasi dengan nilai yang cukup tinggi.

Berdasarkan data BKPM yang dikutip detikFinance, Jakarta, Selasa (6/11/2018). Total investasi yang masuk ke Boyolali dari Januari-September 2018 sebesar US$ 1,90 juta. Investasi tersebut paling besar di sektor peternakan, kemudian disusul oleh industri makanan, tekstil, peternakan, lalu perdagangan, dan reparasi.

Dari total US$ 1,90 juta, yang masuk sektor peternakan sebesar US$ 1,75 juta dengan jumlah 1 proyek dan tenaga kerja Indonesia sebanyak 68 orang. Investornya berasal dari Hong Kong dan RRT (China).

Sisanya US$ 150,5 ribu masuk ke industri makanan, tekstil, peternakan, lalu perdagangan dan reparasi, dengan jumlah 10 proyek. Investornya berasal dari Singapura.

Sedangkan sektor lainnya, seperti industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi belum tercatat adanya investasi. Begitu juga khusus sektor industri lainnya. Investornya RRT, Jepang, British Virgin Islands, dan Denmark.

Deretan Perekonomian Boyolali dari 2011-2016

Kebun Raya Boyolali. Foto: (Brigida Emi Lilia/d'Traveler)
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (6/11/2018), rata-rata pertumbuhan ekonomi Kabupaten Boyolali selalu di atas 5%.

Pada tahun 2011, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Boyolali sebesar 6,34%, pada 2012 sebesar 5,33%, pada 2013 sebesar 5,83%, pada 2014 sebesar 5,42%, pada 2015 sebesar 5,91%, dan pada 2016 sebesar 5,27%.

Masih dari data BPS, pada September 2018 Kabupaten Boyolali mengalami deflasi sebesar 0,15%, pada April 2018 juga deflasi sebesar 0,01%, pada Maret 2018 terjadi inflasi sebesar 0,14%, pada Februari 2018 terjadi inflasi sebesar 0,51%, dan pada Januari tahun ini terjadi inflasi sebesar 0,56%.


Halaman 2 dari 6
(hek/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads