Trump Mau Damai dengan China, Tapi Malah 'Ribut' dengan Iran

Trump Mau Damai dengan China, Tapi Malah 'Ribut' dengan Iran

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 07 Nov 2018 08:50 WIB
Trump Mau Damai dengan China, Tapi Malah Ribut dengan Iran
Foto: BBC World
Jakarta - Presiden Donald Trump lagi-lagi mengeluarkan pernyataan yang mencengangkan. Minggu lalu ia sempat menyatakan jika Amerika Serikat (AS) akan berdamai dengan China soal perang dagang.

China pun menanggapi dengan positif, mereka siap berdiskusi dan mencari solusi atas ketegangan perdagangan yang terjadi antar kedua negara. Namun, baru saja menyatakan akan berdamai dengan China, Trump kembali memancing keributan dengan negara penghasil minyak yakni Iran.

Trump memberikan sanksi embargo perdagangan di sektor energi khususnya minyak dan sektor keuangan khususnya perbankan. Berikut berita selengkapnya:

China Siap Ngobrol Bareng AS

Foto: BBC World
Untuk mengurangi ketegangan tersebut, Wakil Presiden China Wang Qishan mengungkapkan saat ini pihaknya siap bertemu dan berdiskusi dengan AS. Diskusi tersebut dilakukan untuk mencari solusi atau memecahkan masalah perang dagang antara kedua negara.

Mengutip CNBC, Selasa (6/11/2018), sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar US$ 267 miliar jika tidak ada kesepakatan terkait perdagangan bulan ini.

"China dan AS akan senang bekerja sama dari sisi perdagangan untuk ekonomi yang besar," ujar Wang dalam Forum Ekonomi di Singapura.

Wang menjelaskan, jika diskusi dilakukan bukan tidak mungkin akan menguntungkan kedua belah pihak yang bersitegang.

"Dunia saat ini sedang banyak masalah. Karena itu dibutuhkan kerja sama yang kuat antara China dan AS. Kami yakin China dan AS bisa bekerja sama," jelas dia.

Wang kembali menegaskan pernyataan yang disampaikan Presiden China Xi Jinping pada Senin lalu yang menyatakan jika pihaknya akan lebih terbuka.

Sebelumnya Trump mengungkapkan jika China telah melakukan kesalahan karena adanya pencurian kekayaan intelektual yang dilakukan sebuah perusahaan China hingga masalah defisit neraca perdagangan yang besar.

Menanggapi hal tersebut Wang menyebut China berupaya untuk menyelesaikan sengketa internasional tersebut sebaik mungkin. Menurut dia, hal tersebut dilakukan karena ini akan berdampak pada stabiltias dan ekonomi global.

"Kerja sama perdagangan antara China dan AS pada dasarnya saling menguntungkan. Kami akan tetap tenang dan berpikiran jernih dan berupaya terbuka dan bekerja demi keuntungan bersama," jelas dia.

Dialog Dalam Waktu Dekat

Foto: Nadia Permatasari/Infografis
Untuk menyelesaikan masalah ketegangan dagang, Amerika Serikat (AS) dan China segera melakukan dialog tingkat tinggi. Dialog ini sebelumnya dijadwalkan pada Senin, namun mundur pada Jumat mendatang.

Mengutip CNBC pembicaraan ini awalnya ditandai dengan obrolan via telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping beberapa waktu lalu. Obrolan telepon ini dilakukan sebelum pertemuan KTT G20 digelar di Argentina.

Memang, ketegangan dagang antara AS dan China ini sudah terjadi beberapa bulan. AS menuduh banyak kepentingan politik yang disematkan dalam kegiatan dagang kedua negara.

Namun, pembicaraan lewat telepon antara Xi dan Trump disebut sebagai sinyal yang positif dan bisa menyelesaikan dengan cepat sengketa dagang tersebut.

Sebelumnya Kementerian Luar Negeri kedua negara yakni AS dan China telah menyetujui rencana pertemuan yang akan membahas perang dagang dan membahas konflik di Laut China selatan.

Menteri Pertahanan AS Jim Mattis menjelaskan, dirinya sudah bertemu dengan Menteri Pertahanan China Wei Fenghe di Singapura pada pertengahan Oktober lalu dan ia menjelaskan jika kedua negara membutuhkan pertemuan tingkat tinggi untuk membahas seluruh risiko atau potensi terjadinya konflik lanjutan.

Wakil Presiden China Wang Qishan beberapa waktu lalu menjelaskan jika China siap berdiskusi dan bekerja sama dengan AS untuk menyelesaikan sengketa perdagangan.

"China siap berdiskusi dengan AS tentang isu-isu yang menjadi perhatian bersama seperti perang dagang. Kami juga akan mencari solusi perdagangan yang dapat diterima kedua belah pihak," imbuh dia.

Saat ini menurut Wang dunia sedang menghadapi masalah yang besar karena itu dibutuhkan kerja sama yang baik antara China dan AS.

Embargo Minyak dan Bank

Foto: REUTERS/Jonathan Ernst
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta 'sahabat-sahabatnya' untuk tak lagi membeli minyak dari Iran. Ini dilakukan setelah AS akhirnya memberikan lagi sanksi embargo perdagangan minyak terhadap Iran yang dilakukan Senin (5/11).

Selain melarang penjualan minyak Iran, Trump juga memberikan sanksi kepada Iran di sektor perbankan. Jadi, tak ada lagi transaksi dengan bank-bank asal Iran.

Meskipun ada pelarangan, Trump mengecualikan kepada delapan negara yang langganan minyak untuk tetap membeli dari Iran. Memang, ia tak menyebutkan siapa saja negara-negara yang masuk daftar tersebut, tapi India, China, Korea Selatan, Jepang dan Turki diprediksi akan masuk dalam daftar tersebut. Namun Uni Eropa tak masuk dalam daftar pengecualian.

Trump menerapkan sanksi embargo ini setelah AS memutuskan untuk keluar dari kesepakatan nuklir yang dilakukan dengan Iran pada 2015 lalu. Saat itu ada Iran, AS dan enam negara lain yang bersepakat untuk menghentikan rencana produksi senjata nuklir.

"Sekarang Iran jadi negara yang berbeda. Mereka ingin mengambil alih seluruh Timur Tengah," kata Trump dikutip dari Reuters, Selasa (6/11/2018).

Untuk menghadapi sanksi embargo tersebut, International Monetary Fund (IMF) meminta Iran untuk mengeluarkan kebijakan sekaligus menjaga stabilitas makro ekonomi negara tersebut.

"Amerika tidak bisa melakukan apapun terhadap bangsa kita. Kami punya pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola ekonomi negara," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qasemi.
Halaman 2 dari 4
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads