Follow detikFinance
Kamis, 08 Nov 2018 18:23 WIB

Ini Negara yang Bisa Raup Untung dari Perang Dagang AS-China

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: BBC World Foto: BBC World
Jakarta - Amerika Serikat (AS) saat ini masih mengalami ketegangan dagang dengan China. Analis menilai perang dagang ini bisa menularkan dampak positif dan negatif untuk negara di kawasan Asia.

Dalam sebuah laporan yang ditulis oleh analis The Economist Intelligence Unit Nick Marro disebutkan Asia memiliki rantai pasok yang sangat terintegrasi. Sehingga jika ada satu jalur saja yang rusak, maka akan mempengaruhi jalur lainnya.

"Dengan adanya perang dagang ini, diprediksi akan ada sedikit gangguan," kata Marro dikutip dari CNBC, Kamis (8/11/2018).

Namun, menurut dia ada sejumlah industri besar yang tidak akan terdampak oleh perang dagang ini. Misalnya teknologi, otomotif dan pertanian. Negara-negara seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand mampu melihat peluang ini. Karena itu mereka siap masuk dan fokus untuk mengembangkan industri tersebut.


Vietnam dan Malaysia contohnya mereka memanfaatkan momen perang dagang ini untuk meningkatkan produksi barang konsumsi seperti telepon seluler dan laptop. Ini dilakukan karena perusahaan di kedua negara yang sedang berperang pasti akan mempersiapkan diri untuk memindahkan investasi ke negara yang lebih aman dan lancar.

Sektor otomotif juga merupakan peluang besar untuk Thailand dan Malaysia. Marro menyampaikan AS adalah konsumen suku cadang mobil terbesar di dunia. Perang dagang ini dipastikan akan menekan produksi China. Industri otomotif di Thailand memiliki potensi pertumbuhan yang sangat beragam dan disebut akan menciptakan keuntungan yang besar.

Selain negara-negara yang memanfaatkan momen perang dagang ini. Ada juga negara yang akan menjadi pecundang dan berpotensi menelan kerugian. Misalnya Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Singapura. Negara-negara ini hanya bergantung pada pengiriman ke China.



"China adalah tujuan utama untuk barang ICT menengah. Artinya perusahaan itu akan terkena dampak karena adanya pengenaan tarif untuk produk tersebut," jelas dia.

AS dan China saat ini terlibat dalam sengketa dagang. AS memberlakukan tarif tambahan impor produk China sebesar US$ 250 miliar. Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif untuk semua barang yang masuk dari China. Kemudian China membalas dengan mengenakan tarif tambahan senilai US$ 110 miliar.

Rencananya Trump dan Xi Jinping akan bertemu pada KTT G20 di Argentina bulan ini. Diharapkan kedua pemimpin negara itu bisa meredakan ketegangan dagang yang selama ini terjadi. (kil/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed