Follow detikFinance
Jumat, 09 Nov 2018 19:14 WIB

Alasan Penggilingan Pilih Giling Beras Premium Ketimbang Medium

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Trio Hamdani Foto: Trio Hamdani
Jakarta - Pasokan beras medium dari daerah ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) mengalami kemerosotan. Kalangan pedagang menyebut, tak banyak sentra produksi beras yang memasok beras medium ke mereka dan malah memasok beras premium.

Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, hal ini dikarenakan sentra-sentra penggilingan lebih suka menggiling gabah menjadi beras premium ketimbang beras medium. Ternyata, hal itu bukan tanpa alasan.

Pengamat Pertanian IPB Dwi Andreas menjelaskan, dengan kopndisi saat ini, menggiling gabah menjadi beras medium bukan lah hal yang menguntungkan. Bagaimana tidak, dengan harga gabah yang sebesar Rp 5.020/kg, proses penggilingan akan menghasilkan beras medium dengan harga Rp 12.000/kg di tingkat konsumen.

"Oktober ini gabah ini Rp 5.020 per kg dan kalau dikonversi ke beras itu jadi Rp 10.000, dan sampai ke konsumen jadinya sekitar Rp 11.500 hingga Rp 12.000 per kg," jelas dia kepada detikFinance, Jumat (9/11/2018).


Padahal, pemerintah telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk beras medium adalah Rp 9.450. Tentu pelaku usaha akan mengalami kerugian bila memaksakan menjual beras medium saat ini sesuai dengan HET tersebut.

Hal ini lah yang mendasari sentra-sentra penggilingan akhirnya lebih memilih menggiling gabah menjadi beras premium ketimbang beras medium.

"Karena kalau mengikuti HET dan berusaha (menggiling) di medium itu tidak menguntungkan, malah merugikan. Jadi (digiling) ke premium," papar dia.

(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed